
Terima kasih Chat GPT Image Generator!
Dalam tayangan lambat kawan, aku bersama-sama Lia dan Nasri keluar dari ruangan tes dengan perasaan campur aduk. Di depan sana Bapak Wakasek yang masih kelihatan semangat dan Bu Hartini sudah menunggu. Bisa kubayangkan, beliau akan mendatangi kami, memeluk aku dan Nasri, menepuk bahu kami dan membesarkan hati kami. Bahwa kami tidak kalah. Kami sudah memberikan yang terbaik. Bayangkan itu dalam tayangan lambat kawan.
Sayangnya bukan itu yang terjadi. Bapak Wakasek cuma bertanya singkat. “Bagaimana hasilnya?”
Lia menyuruh Nasri menjawab lewat tatapannya, lalu Nasri melimpahkan tanggung jawab berat itu padaku, juga lewat tatapan. Kami sahabat, kami saling mengerti.
“Buruk, Pak. Maafkan kami.”
“Buruk? Buruk kenapa? Soalnya terlalu sulitkah?” tatapan tak percaya terpancar jelas dari wajah Bapak Wakasek Kurikulum.
“Sulit bukan kata yang akurat, Pak. Saya pikir kata absurd lebih sesuai.” Nasri ikut menyahut.
“Maksudmu soal itu tidak masuk akal, Nasri?”
“Tepat sekali Pak.”
“Ah begitu rupanya. Saya dengar, level soal dari Lomba Nasional memang selalu bertambah sulit setiap tahunnya. Ini menuntut kalian, para siswa untuk semakin berkembang lagi. Kalian harus belajar lagi. Benar?”
“Benar Pak.”
“Ya sudah. Diambil positifnya saja. Jadikan ini pengalaman. Tahun depan kita coba lagi. Kalian belajarlah dengan rajin agar bisa dipilih lagi, masuk seleksi dan bisa lanjut ke tahap selanjutnya.”
Aku menelan ludah lalu menggeleng. Entahlah. Aku merasa tidak ingin lagi berurusan dengan soal apapun yang menyangkut tupai dalam isinya.
Reaksi Bapak Wakasek itu kuanggap wajar saja kawan. Beliau pantas kecewa setelah perjuangan beliau yang sangat berat itu. Beliau yang paling banyak berkorban agar kami bisa masuk ke ruangan tadi dan menjawab soal sebagaimana peserta lain.
Reaksi yang kurang wajar justru ditunjukkan Bu Hartini. Semenjak kami keluar dari ruangan tempat menjawab soal, beliau diam saja. Setelah kami selesai bicara dengan Bapak Wakasek, kukira kami akan kena dampratan. Rupanya tidak. Bu Hartini menghela nafas saja, kecewa pasti, tapi akhirnya beliau hanya bilang,
“Ayo kita pulang. Tidak ada gunanya meratapi apa yang sudah terjadi. Semoga ini bisa jadi pembelajaran berharga bagi kita semua.”
Rupanya aku tidak tahu, setidaknya sampai kemudian seseorang menceritakannya padaku, kekecewaan dan kemarahan Bu Hartini membubuk di dalam. Ibarat api itu, ia terpendam dulu di tumpukan kayu, tidak ketahuan, tapi sekali meledak ke permukaan, bisa sangat mengerikan. Aku akan menyebut ini, adegan off screen.