Hari ini, aku kembali sekolah. Urusan sepeda motor sudah diselesaikan baik-baik. Kemarin, kami bersama Bapak Wakasek datang ke polsek untuk membayar semua denda yang dituntutkan hukum pada kami. Semua dibayar lunas oleh Quart School. Hariku di Quart School kembali seperti semula, setidaknya sampai datang dua orang yang berteriak-teriak tidak jelas.
“Mantap sekali kerjamu Az.”
“Bravo Az, bravo!”
Heran sekali aku melihat Aram dan Wahid yang baru datang, tapi tiba-tiba langsung menepuk punggung dan mengangkat tanganku sambil berteriak-teriak.
“Hei, ada apa ini Ram?” aku berontak tapi Aram tidak peduli. Sambil tetap mengangkat tanganku tinggi, dia mengalihkan padangan ke seisi lokal.
“Kalian semua, ayo kasih selamat pada Azka. Dia telah berhasil memenangkan satu pertempuran.”
“HOOOOOOOO!”
“Ram, sudah Ram. Jangan mengada-ada. Aku tidak memenangkan apapun,” kulepas tanganku dari pegangannya dengan tegas. Fakta bahwa mereka sedang bersorak untuk kami yang kalah tragis, membuatku ngilu.
“Kami kalah Ram. Kalah telak. Jangan membuat sarkas, itu menyakitkan.”
“Hei siapa bilang ini tentang Lomba Nasional?”
“EH?” Semua orang yang tadinya bersorak kini menatap heran pada Aram. Jadi tadi mereka bersorak untuk apa dong?
“Ini untuk Azka yang berhasil menyingkirkan wakil lokal 5 untuk jadi delegasi. Itu kemenangan telak. Akhirnya Nadia dan Okta itu dibuat sadar, bahwa mereka tidak sebaik, sesempurna yang mereka kira. Bagiku itu sudah kemenangan Az, tak peduli hasil akhirnya. Kau sudah menang sebelum pertandingan.”
Hanya Aram yang bisa mendramatisir kekalahan telak kami jadi sorakan kemenangan. Sisanya berlalu dengan jengkel karena baru saja tertipu.