Bukan Badboy Penyelamat Sekolah

Muhammad Azhar
Chapter #100

Mozaik 100 : Ide yang Tumbuh Setinggi Batang Tebu

Wajar kalau Aram mengamuk, protes-protes itu kawan. Ini memang tugas yang absurd. Bagaimana bisa kami mendapat tugas menanam pohon dari seorang guru agama. Disuruh merawat dan memelihara pula. Itu artinya wajib disiram secara teratur. Jika kami tidak bertanggung jawab dalam pemeliharaan dan tanaman itu mati secara sewenang-wenang, kami harus mengulangi lagi prosesnya dari awal.

Alangkah merepotkannya tugas itu. Belum lagi disuruh membikin laporannya.

Aku mengetahui ini dari bertanya secara detail pada Mawar dan Mei, sebelum pergi ke kantin menyusul Aram dan Wahid. Kata Mawar pula, kami punya waktu tiga hari untuk menentukan tanaman apa yang akan kami tanam di halaman belakang sekolah itu.

Keesokan harinya, ramai-ramai murid lokal 4 mengangkut segala macam bibit tumbuhan ke sekolah. Kalau kulihat sekilas, ada banyak bibit mangga yang dibawa. Sepertinya bibit ini adalah yang paling mudah untuk dirawat. Yang membawa bibit mangga diantaranya adalah Nasri, Mei dan Lia. Sementara Mawar membawa bibit pohon jambu. Adapun Wahid, dia dimarahi Mawar karena membawa bibit tidak jelas. Semacam rerumputan semak belukar yang hanya akan membuat halaman belakang jadi mirip sabana Afrika.

Sampai hari kedua penanaman bibit, aku, Aram dan Wahid termasuk di antara orang-orang yang sama sekali belum mencoba menanamnya. Ini sebab kami tidak punya banyak pilihan bibit tumbuhan apa yang kira-kira bisa ditanam.

“Kita harus mencari bibit yang tidak gampang mati.”

“Setuju, Ram.”

“Kita juga harus mencari bibit yang tidak rewel.”

“Rewel?” aku bertanya heran, ini kami sedang membicarakan bibit atau anak umur lima tahun?

“Iya Az, rewel. Maksudku bibit itu tidak perlu banyak cingcong perawatan. Bibit itu bisa tetap tumbuh meski tidak pernah disiram.”

“Bibit rumput yang kubawa itu, seharusnya bisa tumbuh tanpa disiram.”

Lihat selengkapnya