Hanya perlu waktu satu minggu untuk tugas nyeleneh Bu Hartini untuk menunjukkan wujud aslinya. Tugas itu perlahan-lahan mencekik leher kami, dan menyusahkan kami. Bahkan tidak lama kemudian, tugas ini resmi menjadi tugas paling sulit yang pernah kami dapatkan di Quart School.
“Huft, Bu Hartini, tugas ini benar-benar SIALAN!”
BRAKKK!
“Ham tenang Ham!”
Istirahat pertama baru saja usai saat seseorang masuk kelas, berteriak, lalu menggebrak meja. Dia duduk di bangku depan. Nada suaranya kesal, wajahnya tidak terima, matanya berkaca-kaca.
Namanya Hamed Ballen.
(Iya, aku tahu, namanya aneh sekali. Aku sempat mendapatkan protes dari seorang kawan, tapi aku suka saja menamai orang dengan nama itu).
“Ada apa Ham?” tanya Mei.
“Bibit punyaku, mati lagi.” Dia seperti ingin mengeluh dalam-dalam.
“Kau siram tidak?”