Bu Hartini tidak bercanda ketika meminta laporan pertanggungjawaban pemeliharaan pohon itu pada kami. Harus diketik di atas kertas A4, dengan format yang sesuai dengan penulisan karya ilmiah. Dan kawan juga tentu mafhum, bagaimana pengetahuan kawan-kawanku menyangkut bidang kepenulisan dan pengetikan.
Maka di situlah kemudian, ada kesempatan bagi usaha pengetikan Azka yang bersih dan rapi. Mulanya cuma Aram dan Wahid yang meminta bantuanku untuk mengetikan tugas mereka. Tapi lama-lama hampir semua orang mengirimkan mandat kepadaku untuk mengetik tugas milik mereka.
“Berapa harganya Az?”
“20 ribu satu buah laporan. Bagaimana?” Aku dengan wajah setengah terpaksa memasang harga.
“Baiklah, itu lebih baik daripada aku harus mengetik,” ujar salah seorang temanku. Transaksi dilakukan tanpa tawar menawar. Karena merupakan rahasia umum, mayoritas siswa Quart School sebenarnya adalah orang berduit.
Tawaranku rupanya dianggap praktis oleh sebagian besar siswa. Dalam waktu singkat, tak kurang dari 25 buah tugas laporan sudah hinggap di meja belajarku. Dengan deadline satu minggu, aku jelas harus membagi-bagi waktu. Terutama waktu tidur. Imbalannya cukup kawan, jika kawan mengali jumlah tugas itu dengan tarifnya, kawan akan menemukan uang yang signifikan banyaknya. Cukup bagiku untuk begadang sampai pukul 2 pagi.
Lamat-lamat aku paham, uang sama gilanya dengan cinta.
Untuk mengimbangi pekerjaanku yang gila itu, aku menyediakan kopi, serta beraneka makanan kecil agar aku tidak mudah mengantuk. Tapi minuman pahit kental itu tidak cukup ampuh. Aku masih menguap.
Kucari handphone sebagai jalan terakhir agar kuat begadang. Riset telah membuktikan, cinta lebih ampuh menahan kantuk. Jadi aku menghubungi Syifa. Cukup lewat chat saja, tidak lebih.
“Tumben kamu belum tidur Az?”