[Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan area]
Sejak tadi aku mencoba menelepon Feri. Minta jemput. Sayang, nomornya tidak bisa dihubungi.
"Kamu kemana sih, Fer? Susah sekali dihubungi. Mana Huda lagi sibuk gak bisa jemput, lagi. Gak mungkin aku minta Mbak Nisha jemput soalnya dia piket malam. Huft," gerutuku.
Akhirnya aku pasrah dan menunggu angkot di halte kampus. Andai motorku gak ngadat, pasti gak bakalan pulang pergi naik bus disambung angkot.
Tin ... Tin.
Aku menoleh ke arah orang yang membunyikan klakson motor. Aku berdiri dan menghampiri si empunya motor. Mas Rayyan.
"Kok belum pulang?" tanyanya.
"Belum dapat angkot Mas. Mas Rayyan anterin Na ke Tanjung ya? Nanti Na nunggu bus di sana. Kalau nunggu di sana bisa naik bus malam jurusan Bandung juga. Banyak alternatif pokoknya."
Langsung saja aku meminta bantuan Mas Rayyan. Mas Rayyan tersenyum dan bersuara.
"Ayuk naik."
"Oke. Makasih Mas."
Aku segera membonceng Mas Rayyan. Untung tadi pakai celana panjang kalau enggak rempong naiknya. Selama perjalanan aku mengajaknya ngobrol seperti biasa. Ada saja hal yang kami bahas. Kadang malah disertai derai tawa.
"Loh-loh, kok turun di sini Mas?"
Aku bingung karena Mas Rayyan malah menurunkanku di toko helm.
"Masuk Na."
Aku masih diam tak bergerak, masih bingung dengan maksud Mas Rayyan.
"Ck."
Mas Rayyan langsung menarik tanganku menuju toko helm yang cukup besar bahkan banyak pengunjung pula. Sejak tadi aku hanya mengikuti langkah kaki Mas Rayyan.
Sesekali pandanganku berkeliling. Aku tak bisa menahan senyum. Soalnya, hampir semua mata menatap Mas Rayyan dengan pandangan penasaran, tertegun, tertarik dan penuh selidik. Bahkan si Mbak pelayan aja sampai memandang Mas Rayyan dengan tatapan terpesona serta senyum yang selalu terkembang.
Mas Rayyan sendiri tampak cuek dan bersikap datar. Ckckck. Baru aku tahu, rupanya dibalik sikap ramahnya, Pak Dokter blasteran ini juga bisa bersikap datar bin dingin macam kutub saja. Hahaha. Untung sama aku enggak. Awas kalau iya, aku kutuk dia biar jatuh cinta sama aku. Haish.
"Kamu pilih yang mana Na?"
"Hah? Pilih apa Mas?" Aku mendadak linglung.
"Helm? Kamu mau pilih yang mana?"
"Buat apa? Na sudah punya helm di rumah."
"Buat dipakailah Na, gak mungkin aku nganter kamu tanpa kamu pakai helm. Bisa ditilang nanti kitanya."
"Hah?" tanpa sadar aku melongo.
Hap, tangan Mas Rayyan menekan daguku agar aku berhenti mangap.
"Awas nanti lalat masuk. Yang Ink warna biru ya?"
"Gak usah Mas."
Aku menolak tapi Mas Rayyan pandai membujuk hingga aku pun mau dibelikan helm.
"Jadi mau hijau, biru apa ungu?"
"Pink," pekikku. Lalu tersenyum manis sekali.
"Hahaha. Oke. Tolong yang pink ya, Mbak."
Mas Rayyan segera membayar. Begitu selesai, kami segera keluar.
Aku memeluk helm baruku penuh sayang. Berkali-kali kuucapkan terima kasih padanya.
"Udah, sampai pegel Mas dengernya."
"Makasih loh Mas."