"Kapan cutinya Mbak?" Saat ini aku sedang membantu Mbak Nisha membuat kue untuk acara hajatan nanti.
"Hari Jumat, Dek."
"Gak kemepeten itu, Mbak? Minggu aja akad loh?" saranku.
"Gak bisa Dek. Mau ada akreditasi jadi Mbak pengin semua tanggungjawab Mbak selesai sebelum Mbak nikah. Masmu aja malah cutinya H-1, Dek."
"Astaga. Besok aku mau jadi dokter Puskesmas ajalah yang gak sibuk," jawabku cengengesan.
"Hahaha. Kata siapa gak sibuk? Sama aja kali tapi iya sih kalau di Puskesmas gak terlalu capek. Kalau mau jadi dokter Puskesmas usahain PNS dulu lah. Kalau enggak nanti gajinya gak seberapa."
"Iya-iya yang kerjanya di rumah sakit swasta gede, gajinya gede pula."
"Tapi tanggung jawabnya juga gede Dek," timpal Mbakku.
"Iya sih."
Kami terus bercerita sambil membuat roti.
Hari berganti hari, aku pun menjalankan aktivitas kuliahku seperti biasa. Dan tak lupa membantu persiapan pernikahan Mbak Nisa. Seperti kali ini, aku sedang berada di Moro untuk membeli sesuatu demi keperluan pernikahan Mbak Nisha. Tanpa sengaja, aku melihat keberadaan Rosi.
"Rosi," teriakku.
Segera aku berlari menghampiri Rosi. Rosi menoleh ke arahku.
"Eh, Nasha," gagapnya.
Aneh. Pikirku. Rosi nampak gugup saat melihatku.
"Kamu lagi ngapain?" tanyaku. Seperti biasa aku memasang wajah penuh senyum untuknya.
"Aku ... Aku ...." Lagi-lagi Rosi nampak gagap.
Belum sempat Rosi menyelesaikan perkataannya, terdengar sebuah suara yang sangat kukenal.
"Sori ya, aku kela- Nasha!"
Wajah Feri tampak kaget saat melihatku. Sementara aku malah bingung. Kuamati arah kedatangan Feri yang ternyata berjalan dari arah toilet.
"Feri. Kamu di sini juga? Ada acara apa?" tanyaku.
"I-iya. Ini tadi aku mau nyari sepatu buat latihan basket." Dia tampak salah tingkah.
"Oh. Sama siapa?" tanyaku.
"Sendirilah. Mau sama siapa lagi?" jawabnya agak ketus.
Aku tercenung mendengar suara ketusnya. Sadar jika aku kurang ada waktu untuknya. Karena itu aku segera meminta maaf.
"Maaf," ucapku lirih.
"Lain kali, aku bakalan lebih perhatian lagi. Eh, gimana kalau aku temani ya? Tapi habis aku nyelesein ini dulu."
Feri terlihat mendecakkan lidahnya.
"Udahlah. Aku pulang duluan."
"Tapi Fer. Aku-"
"Halah, aku udah gak mood. Aku balik dluan Ros."
Feri berlalu pergi begitu saja. Dia bahkan tak menatapku dan malah berpamitan pada Rosi.
Aku hanya bisa memandanginya pergi dengan mata berkaca-kaca. Aku juga yang salah. Aku akan berusaha meluangkan waktu berdua dan memperbaiki hubungan kami. Itu tekadku. Seseorang menepuk bahuku. Aku baru sadar masih ada Rosi.
"Aku duluan ya. Maaf aku ada janji," ucap Rosi.
"Oh iya. Gak papa. Hati-hati ya." Rosi langsung berlalu dari hadapanku.
Lama aku termenung sampai lupa pada tujuanku kemari.
"Woi, melamun aja."
Huda sepupuku rupanya. Aku mencoba menenangkan diri lalu tersenyum.