"Na, tolong kamu beliin beberapa keperluan di Moro aja ya? biar lebih murah." Ibu menyuruhku membeli banyak keperluan untuk acara empat puluh harinya Mbak Nisha.
"Iya Bu, nanti Nasha naik Grab aja. Kasihan Ayah."
"Iya, apa kamu ditemani sama Huda aja, Na?"
"Gak usah Bu! Kasihan Huda, mungkin dia juga lagi capek. Udah Na sendiri aja."
"Ya sudah, hati-hati ya Nduk."
"Iya Bu."
Aku segera memesan Grab melalui aplikasi di ponselku. Kurang dari lima belas menit Grab datang dan aku langsung naik.
Sekitar empat puluh lima menit, aku sampai di Moro. Langsung saja aku mengambil keranjang dan mengisinya dengan berbagai keperluan seperti yang tertera di daftar belanjaan yang sudah ibuku buat.
Setelah selesai berbelanja dan membayarnya di kasir, aku menitipkan barang belanjaanku di penitipan barang. Aku ingin membeli beberapa novel baru sebagai bahan bacaan. Saat aku hendak menuju ke area bookstore, mataku membelalak melihat pasangan yang tengah berjalan mesra. Refleks aku bersembunyi dan memilih memperhatikan mereka dari jauh.
Mataku nanar melihat pasangan yang sedang berjalan mesra menuju lantai atas mall. Aku sengaja bersembunyi dibalik etalase agar tak terlihat. Jujur ada rasa tak percaya jika pacar dan sahabatku tega menikamku dari belakang. Ingin bilang salah lihat, tapi itu beneran mereka. Ingin berpikir positif kalau keduanya paling gak sengaja ketemu tapi Rosi bergelayut mesra pada Feri. Dan Feri terlihat menikmati.
Untuk memantapkan dugaanku, segera aku mengambil ponsel yang ada di dalam tas. Lalu segera menghubungi Rosi. Jariku dengan lincah menulis chat dan setelah itu segera kukirim.
Me : [Lagi dimana?]
Rosi : [Di kosan. Kenapa?]
Me : [Aku maen ya? Mau otw nih]
Rosi : [Eh jangan, aku bentar lagi pergi]
Me : [Kemana?]
Rosi : [Nemeni Endah keluar nih]
Me : [Ooo. Okelah. Next time aja]
Rosi : [Ok]
Begitu pesanku dan Rosi terputus yang kulakukan adalah tertawa sambil berurai air mata. Miris sekali. Kupikir kisah cintaku akan semulus jalan tol ternyata malah ada tikungan dan tikungan itu bernama perselingkuhan. Gila Dan apa tadi alasan Rosi? Pergi dengan Endah. Bohong. Kamu dasar pembohong, Rosi.
Aku mencoba mengusap air mataku lalu segera kembali mengetik pesan. Kini giliran Feri.
Me : [Fer, temenin aku nyari keperluan buat 40 hari mbak Nisha yuk?]
Feri : [Sekarang?]
Me : [Iya. Ayuk ke BJ Sampang aja yang deket]
Feri : [Sorry, aku gak bisa. Ada janji sama temen]
Me : [Siapa?]
Feri : Satya.
Me : [Oh. Ngapain?]
Feri : [Nyari tempat buat KKN]
Me : [Ok. Hati-hati]
Feri : [Baik. Miss you]
Brengsek. Dasar lelaki brengsek. Aku mengumpati Feri. Dalam hati menyalahkan diri sendiri kenapa harus sampai salah milih pacar.
"Oke fix udah lupain Feri. Dia bukan cowok yang baik," gumamku.
"Lihatlah, bahkan kakakku meninggal saja dia hanya datang sekali. Itu pun cuma sebentar. Dan lihatlah sahabatmu Na, menusukmu dari belakang."
Lagi-lagi air mataku menetes. Segera aku menghapusnya lalu mengambil napas dan menghembuskan secara kasar.
"Baiklah jika itu mau kalian. Akan kulihat seberapa hebat permainan kalian," ucapku mantap.
Aku sudah pasrah dan lelah. Selama beberapa waktu ini aku sudah berusaha memperbaiki hubunganku dengan Feri tapi rupanya dia yang makin menjauh. Selama ini, aku pikir karena dia ingin membalas sikap acuhku, makanya dia berlagak cuek, ternyata bukan.