Bukan Calon Kakak Ipar

bainara
Chapter #8

Video

Aku tengah menyusuri koridor kampus dengan hati gembira. Akhirnya judul skripsiku di acc. Biar bisa mulai nyicil hehehe. Entah kenapa sepanjang jalan kulihat semua mata memandangku. Apa ada yang aneh ya dengan penampilanku. Aku mencoba melihat penampilanku. Dan sepertinya tidak ada yang aneh. Tapi kenapa semua orang melihatku? Aku gak bikin salah kan?



Aku segera menuju salah satu gazebo jurusan, mau nunut wifi gratis guna mencari beberapa sumber tambahan skripsi.


"Na!" panggilan seseorang kepadaku. 


Aku menoleh kulihat ketiga temanku sedang berlari menuju ke arahku. Nafas mereka ngos-ngosan kayak baru dikejar satpam aja. 


"Kamu ... Kamu ... Udah tahu belum?" tanya Gita.


"Udah tahu apa?" tanyaku bingung.


"Nih. Lihat ini!" Lusi menyerahkan HP-nya padaku.


Aku melihat ada file video. Segera kuputar dan refleks aku melempar HP tersebut sambil beristighfar sangat keras. Jeni mencoba menangkapnya dan untung berhasil.


Mataku memerah. Campuran antara marah, kecewa dan sedih. Ya Alloh, apa yang dipikirkan oleh mereka? Kenapa harus pakai video aih? Ah, gak! Kenapa harus zina sih?


Gita langsung memelukku. Dan aku malah menangis. Meluapkan semua kemarahanku, kesedihanku, dan kecemburuanku. Lama aku menangis hingga akhirnya sedikit tenang. 


"Minum gih."


Aku menerima air mineral pemberian Lusi.


"Kalian udah lama tahu kan?" Setelah tenang, langsung saja kucecar para sahabatku.


"Iya," jawab Lusi. Sementara yang lain mengangguk.


"Kenapa tidak bilang?"


Lusi menghembuskan nafasnya. 


"Karena kami bingung bagaimana memberitahumu. Kami bertiga sudah memperingati Rosi, tapi dia kekeuh. Katanya ini salah kamu. Dia hanya berusaha mengisi kekosongan di hati Feri karena kamu abaikan. Lagian dia udah lama suka Feri katanya."


"Bahkan kami sudah mendatangi Feri. Dino aja sampai hampir baku hantam sama Feri. Kamu tahu kan? Dia udah lama naksir Rosi," sambung Gita.


Aku terdiam cukup lama mendengarkan cerita mereka. 


"Terus nasib mereka gimana?"


"DO palingan. Mereka baru saja dipanggil pihak kampus." Lusi menjawab pertanyaanku.


"Apa video itu sudah menyebar ke seluruh universitas?" tanyaku polos.


"Hahaha. Ya pasti udahlah," ucap Jeni.


Hening. Tak ada obrolan apapun di antara kami. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga kulihat Dino dan Leo datang berlari ke arah kami.

Lihat selengkapnya