Bukan Calon Kakak Ipar

bainara
Chapter #9

Pamit

Sejak terkuaknya video yang menghebohkan kampusku, Feri dan Rosi di DO dari universitas. Bahkan kudengar mereka akan menikah karena Rosi hamil dan orangtuanya meminta pertanggungjawaban Feri. Syukurlah kalau mereka akhirnya menikah. 


Aku sudah tak pernah berhubungan dengan mereka berdua. Bahkan semua gengku pun sudah lama tak menyapa Rosi semenjak ketahuan merebut pacar eh ralat mantan pacarku.


Dino pun sepertinya sudah kembali ceria. Aku tahu dia juga sangat patah hati. Perjuangan cintanya sia-sia. Aku hanya berharap, Dino dapat menemukan wanita lain yang lebih baik dari Rosi. 


Sempat bermasalah dengan mantan pacar dan sahabatku, membuatku lebih introspeksi diri. Dan lebih mencoba menghargai apa yang kumiliki saat ini. Salah satunya adalah kedua orang tuaku. Kini aku lebih memilih menghabiskan waktu bersama mereka. Kematian Mbak Nisha membuatku tersadar, kematian tidak pernah tahu kapan datangnya. Kemarin Mbak Nisha, bisa saja suatu waktu giliran Ayah, Ibu atau bahkan aku. Karena itulah, prioritasku saat ini adalah mereka. Kemana pun mereka membutuhkan bantuanku, aku akan membantu. Seperti saat ini.


Aku sedang menemani ayah ibu mengunjungi rumah sakit tempat Mbak Nisha kerja selama ini. Kami baru sempat mengambil semua barang Mbak Nisha yang masih tertinggal. Selain itu, Ayah bermaksud menemui pimpinan untuk mengucapkan permohonan maaf dan ucapan terima atas semua kebaikan beliau untuk keluarga kami.


Karena kebelet pipis. Aku ijin ke kamar mandi dulu. Ayah dan ibu langsung masuk ke ruang pimpinan. 


Rasanya lega lega setelah menuntaskan hajat. Suasana sangat sepi karena kami sengaja janjian dengan pimpinan hari minggu sore agar tak terlalu ramai.


Entah kenapa aku refleks berjalan ke ruangan Mbak Nisha dulu bukannya ke ruang direktur rumah sakit. Saat akan membuka pintu, aku mendengar suara orang bertengkar di sana. Aku kepo karena mereka menyebut-nyebut nama Mbak Nisha. Jadi aku sengaja menguping.


"Kamu gak bisa menghindari aku terus, Ray. Nisha udah gak ada. Jangan kamu siksa diri kamu. Ada aku." Kudengar suara wanita sepertinya tidak asing.


"Aku sudah bilang sama kamu Hil, aku cuma nganggap kamu teman gak lebih. Jangan banyak berharap sama aku." Nah kalau ini suara Mas Rayyan ganteng.


"Kenapa? Apa kurangnya aku hah? Aku yang selalu di sisimu tapi kamu malah sukanya sama Nisha."


"Karena aku memang sukanya sama Nisha bukan kamu, Hil."


"Tapi Nisha sekarang udah gak ada. Kamu bisa mulai nerima aku. Aku suka kamu Ray. Suka kamu dari dulu."


"Tapi aku gak. Jangan paksa aku, Hil. Hati itu tidak bisa dipaksakan."


"Bisa. Kamu bisa coba nerima aku. Paling gak kasih aku kesempatan. Plis." Kudengar Mbak Hilda mulai sesenggukan.


"Maaf Hil, aku gak bisa. Aku belum ingin berhubungan dengan siapa pun untuk saat ini."


"Tapi suatu saat kamu akan menikah Ray. Plis beri aku kesempatan. Setidaknya biarkan aku mencintai kamu, menyayangi kamu, dan jangan tolak perhatianku. Ya, kamu mau kan Ray?"


"Maaf, Hil. Aku gak bisa. Aku tak tahu kapan aku bisa menghilangkan cintaku untuk Nisha. Dan jangan sisksa diri kamu, Hil. Aku takut mengecewakan kamu lagi karena aku tak pernah bisa cinta sama kamu."


"Jadi kamu berniat mencari orang lain buat pengganti Nisha? Dan itu bukan aku? Kenapa? Kenapa kamu gak nyoba terima aku?" Mbak Hilda nampak histeris dan diluar kendali. Ia bahkan memukul dada Mas Rayyan.


"Hilda cukup! Cinta itu datang dengan sendirinya bukan paksaan. Lagian kamu sudah punya Farhan!" bentak Mas Ray sambil melepaskan diri dari pukulan Mbak Hilda.


"Brengsek kamu, Ray."


"Aku lebih suka kamu sebut brengsek daripada menjadi laki-laki yang bener-bener brengsek. Sudah aku bilang Hil, sejak dulu malah kalau aku cuma nganggap kamu sahabat, gak lebih."


"Kenapa kamu gak coba Ray? Bahkan aku rela jadi selingkuhan kamu."


"Astaga Hilda. Kamu punya otak gak sih? Kamu pikir aku lelaki brengsek pengumbar nafsu? Lagian Farhan sepertinya serius sama kamu."


"Aku gak cinta sama dia. Aku nerima dia buat manasin kamu. Lagian dia cuma perawat walau aku akui dia tampan."


"Astaghfirullah Hilda! Jangan kamu hina dia ya. Belum tentu aku lebih baik dari dia." Mas Rayyan tampak emosi.


"Kamu emang lebih baik. Kamu dokter, karir cemerlang, gaji tinggi, dosen, ganteng dan anak orang kaya sedang dia cuma ...."


"Cukup! Cukup Hilda. Aku benar-benar gak nyangka kamu bisa menghina Farhan seperti ini. Mulai saat ini jangan ganggu aku."

Lihat selengkapnya