*Lima Tahun Kemudian*
Aku berjalan menelusuri koridor Puskesmas Sokaraja II. Aku ditempatkan di sini setelah lulus tes CPNS, dua tahun lalu.
Ayah dan Ibu memutuskan ikut denganku. Ayah membeli rumah di Sokaraja. Karena toh Ayah sudah pensiun dari kerjaan beliau sebagai guru. Sedangkan Ibu cuma ibu rumah tangga. Sehingga mereka malah dengan senang hati mengikutiku yang kini menjadi anak semata wayang mereka.
Rumah di Jatilawang ditempati Huda untuk sementara waktu sampai dia punya rumah sendiri. Usia Huda sepantaran Mbak Nisha. Dia sudah menikah dan punya satu putri yang cantik. Kalian mau tahu siapa istrinya? Dia tak lain dan tak bukan adalah drg. Sagita Prastika. Yap, salah satu sahabatku, Gita. Entah bagaimana mereka jatuh cinta, tahu-tahu nikah aja. Dino dan Lusi juga sudah menikah dengan pilihan mereka. Sedangkan Leo, Jeni dan aku, kami masih asik sendiri.
"Pagi dr. Nasha," sapa Suster Mira yang bertugas menemaniku di poli gigi.
"Pagi Suster Mira," jawabku singkat.
Setelah masuk ke ruanganku, aku memulai bekerja memeriksa pasien. Bekerja di Puskesmas memiliki jam kerja dari pukul 08.00 s.d 14.00 dari hari Senin-Sabtu. Seringnya jam 12 sudah tak ada pasien jadi santai. Setelah selesai aku langsung pulang ke rumah.
Semenjak kematian Mbak Nisha aku jarang main dan lebih senang di rumah menemani Ayah dan Ibu.
Bahkan setelah menjadi dokter, aku pun belum ingin membuka praktek pribadi ataupun ikut bekerja di klinik lain sebagai tambahan. Entahlah, bagiku gaji PNS sudah cukup untuk kehidupanku dan membantu orang tua. Aku tak ingin kehilangan banyak waktu untuk mereka.
*****
"Kamu gak pengen maen Dek?" tanya Ibu.
"Gak Bu, kenapa?" jawabku sambil membantu Ibu memasukkan kain batik pesanan temannya ke dalam kardus. Ayah dan Ibu memulai usaha toko batik dan oleh-oleh di Sokaraja. Yah memang masih kecil-kecilan tapi cukup memberikan tambahan penghasilan.
"Apa kamu gak bosen, Dek? Sesekali main atau ajak teman-temanmu ke sini. Malah bagus kalau temennya cowok."
"Belum pingin, Bu. Masih menikmati hidup sendiri."
Aku tahu Ayah Ibu sangat berharap aku memikirkan masa depan terutama dalam hal jodoh. Tapi semenjak putus dengan Feri aku malas pacaran lagi.
Ditambah pengalaman saat koas. Saat itu ada yang mendekatiku namanya Kevin anak kedokteran juga. Tapi ternyata selain mendekatiku dia juga PDKT dengan salah satu perawat di situ. Aku memergoki mereka sedang berkencan mesra di suatu pantai. Jangan ditanyakan bagaimana ekspresi Kevin pas bertemu denganku. Sejak saat itu, dia tak pernah berusaha mendekatiku lagi. Malu mungkin.
Belum lagi pas masih jadi CPNS, ada perawat PNS juga yang mendekatik. Tetapi, begitu aku kroscek ternyata dia sudah punya tunangan. Haduh. Sejak saat itu, aku males menanggapi perhatian kaum adam. Bahkan banyak yang bilang aku terlalu dingin sama cowok. Aku tak peduli.
*****
"Coba buka mulutnya, aaaaa. Yang lebar sayang, iya pinter, bismillah." Aku sedang mencabut gigi seorang anak berusia 6 tahun.
"Coba jangan dibuang dulu kasanya ya sayang. Pinter gak nangis anak hebat toss." Aku dan seorang anak cewek berusia 6 tahun saling tos.
"Makasih Bu Dokter," sahut sang Ibu.
"Makasih Bu Doktel," ucap sang anak agak cadel.
"Sama-sama Sayang. Nanti kalau goyang lagi giginya, ke sini lagi ya. Ketemu sama Bu Dokter."
"Iya Bu Doktel. Rara pulang dulu ya?"
"Hati-hati."
Huft. Aku menghempaskan tubuhku di kursi. Hari ini lumayan banyak pasiennya. Lalu aku bertanya kepasa Suster Mira.
"Sus Mira, masih ada pasien gak?"
"Udah gak ada Dok."
"Oke. Aku mau main ke poli KIA/KB dulu ya? kalau ada pasien lagi aku di calling." Aku berjalan menuju poli KIA/KB.
Sampai sana aku langsung menyapa rekan sekaligus sahabatku.