‘Teduhkan sebongkah bara api’
“Ini siapa?” suara merdu di seberang membuatku terperanjat. Siapa yang mengangkat teleponnya malam-malam begini?
“Hello... ini siapa?” kemudian suara kesal itu mengentakkanku.
“A-abel,” tanpa kusadari, kegugupan telah memberikan jawaban. Harusnya telepon langsung saja kututup. Tak perlu kutanyakan suara merdu itu siapa. Siapa lagi kalau bukan pacarnya? Dexter memang anak tunggal, tidak ada saudara perempuan dengan suara semerdu ini. Terdengar perempuan itu menyebutkan namaku dengan suara heran dan sangat perlahan sekali.
“Apaan sih,” tiba-tiba suara gadis itu terasa menjauh.
“Halo... Abel?” Dexter segera menyapa. “Ada apa?” tanyanya terdengar surprise dan cukup bersemangat. Aduh, apa orang ini tidak merasa jengah dengan pacarnya menerima telepon dari gadis lain?
“Dex... hm,” ragu menyusupi hatiku.
“Ada masalah apa, Abel? Tumben kamu mencariku... akhirnya mengingatku juga,” sindirnya. Ampun! Berani banget dia nostalgia di depan – kurasa – pacarnya.
“Oh... ng... nggak masalah deh, cuma memastikan saja.”
KLIK! Kututup langsung sambungan telepon itu. Keterlaluan Dexter menyindirku saat aku benar-benar membutuhkan seseorang. Argh! Persetan dengan semua kerjaan!
Kurebahkan tubuh di atas kasur yang empuk. Mendesah panjang sembari memijat pelipisku yang tidak sakit. Ah! Apa yang harus kulakukan untuk memenuhi kewajiban ini? Kali ini, aku pasti akan kehilangan pekerjaan. Oh! Bukan hanya kehilangan pekerjaan tetapi mencelakai Bu Dina. Akhirnya aku memilih memejamkan mata untuk mengusir kegalauan yang bersorak di dalam hati.
Baru saja mataku akan terpejam, nada dering dari ponsel berbunyi menggenapi sebuah lagu. Segera meraih ponsel yang tadi kucampakkan dan memeriksa nama panggilan masuk, Dex Calling.
“Hah?” aku tidak percaya dengan penglihatanku, benarkah ini?
“Abel!” serunya cepat dan cukup keras, menelan sapa yang ingin kuucapkan ketika baru saja mengangkat teleponnya.
“Buset, Dex,” keluhku pura-pura memrotes keras suaranya yang membelai telingaku sembari menyembunyikan sedikit harapan yang bersemi di hati. “Suaramu ngalahin petir!”
“Kenapa tadi tutup teleponnya?” tanyanya dengan nada yang jernih dan begitu kurindukan. Masih tetap dengan nada yang riang.
“Kenapa kamu telepon balik?” balasku tidak mau kalah.
“Maaf, tadi itu pacarku.” Pernyataan Dexter bagaikan petir yang menyambar hatiku serta gemuruh yang menari dalam benakku. Aku sudah tahu jelas siapa yang menerima teleponku tadi namun tetap saja perasaan pun meracau.
“Pa... car?” gumamku ingin meyakinkan sekali lagi. Berharap semua dugaan dan ucapan Dexter itu salah. Salah... salah dengar.
Tetapi harapanku buyar. “Iyah, pacar. Hahahah... emang rese sih dia... protektif. Oyah, aku yakin kamu pasti punya alasan yang tidak hanya seperti yang kamu bilang tadi, ada apa?”
“Oh... mmm... a-aku pengen nanya doang sih Dex.”
“Tanya apa?”