‘Luka hilang bersama waktu’
Suara langkah sepatu beradu dengan marmer terdengar menambah keramaian di saat banyak orang yang lalu lalang. “Abel!” panggilan suara bariton itu sama sekali tidak mengagetkanku. Aneh sekali, bahkan di kantor pun Arron mencariku, ada apa dengannya? Biasanya Arron tidak pernah berbicara denganku, apalagi berlari dan memanggilku.
Aku berbalik dan memandangnya bingung, “Yah, ada apa Pak?”
Ia mengelus dada, meredakan nafasnya yang terengah-engah. “Boleh ikut aku sebentar?”
Belum sempat kuanggukkan kepala, Arron sudah menarikku menuju pintu keluar hotel. “Ah... eh... Pak...,” kebingungan melanda hatiku, cemas juga tidak segan-segan merayap masuk ketika ia membukakan sisi pintu mobilnya. “Ada apa ini, Pak?”
“Ikut saja!” Ia sama sekali tidak memedulikan protes yang tergurat di wajahku. Tidak juga menjelaskan alasannya mengajakku dengan paksa.
♥♥♥
“Rasta?!” seruku kuat sekaligus tidak menyangka akan bertemu lagi dengannya – satu-satunya orang yang selalu berusaha kuhindari sekarang ini. terkaget-kaget mendapatinya setelah melepaskan sepatuku karena lantai berkarpet beludru di studio itu.
“Dan... Arron?” kutunjuk mereka secara bergantian. Arron berdiri melipat tangan sembari mengumbar senyum penuh kemenangan. Lha? Menang karena telah berhasil membohongiku?
“Selamat datang, sayang!” sapa Rasta merentangkan tangannya dengan wajah yang sumringah.
“Heh!” desahku bersama langkah kakiku meninggalkan tempat tersebut. Sebuah ruangan mewah yang penuh dengan alat musik dan foto diri Rasta dari berbagai posisi.
“Eits, Kamu belum boleh pergi,” Rasta menahan langkahku, mencengkeram erat lenganku ketika kuputuskan untuk beranjak pergi. Apa lagi yang dapat kami bicarakan saat ini? Aku sudah tidak ingin berhubungan barang sedikit pun dengan Rasta.
“Lepas! Jangan coba-coba menyentuhku!” kuhentakkan tangannya sekuat tenaga, mendelik sekejap ke arah Arron yang kini sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa di sisi ruangan.
“Wow, galak banget Abel sayang?” Rasta melepaskan tangannya dan mengangkat tangan tanda menyerah. Ia mengolokku!
“Apa sih maumu?” tanyaku memandangnya dengan galak. Setelah apa yang telah dilakukannya, apa dia masih berharap aku dapat berbicara baik-baik dengannya?
“Kamu,” jawab Rasta santai.
“Cukup! Aku mau pulang!” bentakku galak.
“Tidak... sampai kamu menerima cintaku!” cegahnya tidak membiarkanku pergi walau sekuat tenaga aku berusaha menyingkirkan tubuhnya dari depan pintu.
Arron malah memenuhi ruangan ber-AC itu dengan asap rokoknya sembari berkata, “terima saja cinta adikku ini, Abel.”
Aku mendelik. “Adik? Oh, dia ini adikmu? Yah, tidak heran... sekarang aku benar-benar yakin kalian Kakak-Adik karena kalian berdua ini sama saja! PEMBOHONG!” tanganku membuka dengan paksa – setelah mendapat kesempatan Rasta lengah - pintu ruangan tersebut dan menghambur keluar, tidak peduli lagi dengan apa yang akan mereka lakukan. Tidak lagi dapat ditahan meskipun Rasta sempat mencegah langkahku. Aku berlari, ingin sekali menjauh sejauh-jauhnya dari hadapan Rasta, lelaki yang lebih mengecewakanku saat kemunculannya kedua kalinya dalam hidupku. SIAL!
Kakiku menderapkan langkah tanpa tujuan. Tidak peduli bagaimana pendapat orang yang melihatku bertelanjang kaki di jalanan. Tidak peduli bara yang kurasakan di telapak kakiku. Pedih! Semua luka menguak terbuka. Demi Rasta kutinggalkan milik yang berharga, sesal yang tiada berujung. Namun ia malah meninggalkanku begitu saja, jatuh ke pelukan gadis lain. Karena dia juga, aku tidak lagi ingin percaya tentang cinta. Aku benci Rasta!
“Argh!” kujeritkan semua suara, berharap hilang sekalian bersama semua kegundahan di hati saat ini.