BUKAN GADIS OBRAL

Rahmayanti
Chapter #4

BGO EPS.3

"Owh, aku ingat nek." Ucap zia

"Waktu itu ada Nenek nenek datang ke tempat kerja kami terus kayak aneh gitu nek, Neneknya suka ketawa padahal gak ada yang lucu, tiba tiba ngasih wejangan terus ketawa. Kami ber enam ngiranya Nenek itu kurang waras atau ada kelainan. Cuma Zara yang mau datang nyapa si Nenek. Gini kejadiannya waktu itu nek." Sambung Zia

~~

"Selamat Siang Nek, dengan Saya Zara Ada yang bisa di Bantu Nek?"

"Zara. Kamu anak cantik, anak baik ndok." Sang Nenek tersenyum ke Zara."

"Nenek juga dulunya pasti cantik, sekarang juga masih cantik kok." Timpal Zara seraya tersenyum.

"Nenek mau lihat mangkok kaca ini boleh?" Tanya sang Nenek seraya tersenyum.

"Owh, tentu sangat boleh Nek." Zara mengeluarkan Mangkok kaca dari dalam kardus tempat ia bekerja. Sementara Rekan Zara berbisik bisik dan mengguyon melihat Zara melayani sang Nenek.

"Mereka kenapa?" Tanya sang Nenek ke Zara. Zara melirik ke rekan kerjanya seraya melototkan Mata namun bukanya diam Rekan kerja Zara justru tertawa ngakak ketika Zara membuka lebih lebar kelopak matanya.

"Nenek aneh ya?" Tanya sang Nenek hang memang berpakaian lusuh namun bersih.

"Nggak kok Nek." Jawab Zia rekan kerja Zara.

"Cuma Aneh. Kek ada kurang kurang Warasnya." Ucap Zia pelan ke rekannya yang membuat rekan nya tertawa kembali.

"Lagian Nenek ini ngapain sih? Itu mangkok juga kan mahal. Gak mungkin dia sanggup beli. Tampilannya aja lusuh gitu." Jawab rekan Zara yg lain ke Zia. Mereka tertawa pelan melihat Zara di beri nasehat sama Nenek Nenek yang terlihat kurang Normal.

"Nek, Nenek tadi ke sini Sendirian?" Tanya Zara.

"Iya, soalnya anak Nenek kerja semua gak ada yang Antar. Cucu juga gak bisa karena Kerja."

"Nenek Naik apa?"

"Naik Angkot tadi. Itu jalan ke sana ke sana lewat situ mutar."

Si Nenek menunjuk ke semua arah membuat Zara bingung.

"Owh iya Nek." Zara mengguk pelan dengan Ekspresi bingung sesekali melihat rekannya masih menggunjing si Nenek dengan dirinya.

"Nanti Nenek berani pulangnya sendirian?"

"Berani cung. Mana yang bagus ini mangkoknya untuk Nenek?"

"Yang ini Aja nek, gak terlalu besar gak terlalu Kecil,biar gak terlalu berat juga nenek bawanya kalo yang ini." Zara memberikan sekotak mangkok sedang ke sang Nenek.

"Ya udah ini aja kalo kata kamu ini yang bagus. Uangnya ambil di sini ya."sang Nenek memberikan tas nya ke Zara.

"Loh, uang nya aja Nek. Gak usah tas nya." Zara mendorong kembali tas sang Nenek.

"Nenek gak tau uangnya di mana Cung." Si Nenek tertawa ngakak membuat Rekan kerja Zara semakin meng olok olok Zara.

"Maksudnya Nek?" Zara masih sabar dan tersenyum tipis.

"Anak Nenek sebelum berangkat kerja masukan uang katanya ke Tas Nenek. Cari aja, terus Cucu Nenek juga katanya masukan uang di tas ini tapi coba cari dulu."

"Oalah, anak sama cucu nenek sering naro uang di tas ini Nek?"

"Iya."

Nenek dan Zara membuka bagian tas satu persatu yang membuat Zara terkejut di tas Nenek ada uang lima juta.

"Ini udah ketemu Nek." Ucap Zara menunjukan ke sang Nenek.

"Ini siapa yang masukan ya?" Tanya Nenek ke Zara.

" Ya gak tau Nek. Kok tanya saya." Zara dan Nenek ke tawa bareng.

"Maksud te yang masukan iki sopo. Anak atau cucung. Coba buka lagi."

Zara melanjutkan buka Tas.

"Lah ini ada lagi Nek." Zara tersenyum ke Nenek sementara rekan rekan Zara sudah mulai diam melihat uang Nenek.

"Anak nenek sama cucu nenek kerja apa nek?" Tanya Zara penasaran.

"Yang Anak di rumah sakit Dokter jantung. Yang Cucu arsitek suka keluar daerah pergi pergi. Jadi itu istri nya cucu saya yang suka masukkan uangnya ke tas di suruh cucu nenek itu." Si Nenek tertawa dan setiap tertawa si nenek menepuk pundak Zara.

"Jadi Nenek tinggal sendirian?" Ucap Zara.

"Ndak, Nenek ada tinggal sama satu keluarga yang ngontrak di kontrakan Nenek. Semenjak dia sudah nikah sama suaminya yang ngontrak itu di suruh sama cucu sama anak Nenek buat tinggal gabung di rumah aja ngurus Nenek. Gak perlu bayar kontrakan sama biaya hidup mereka cucu sama anak nenek yang tanggung. Karena anak Nenek sama cucu itu suka ke luar kota urus kerjaan mereka dan jarang d rumah ." Nenek bercerita dengan antusias walaupun kadang suara Nenek nyaris tidak terdengar oleh Zara sehingga Zara harus memperhatikan gerakan mulut sang nenek.

"Cincin kamu bagus sekali. Suka Nenek." Tiba tiba sang Nenek memutar cincin Zara yang pernah di putar Gai

"Hehehehe bagus ya nek?" Zara tersipu malu.

Lihat selengkapnya