BUKAN GADIS OBRAL

Rahmayanti
Chapter #5

BGO Eps.4

"Berarti waktu Nenek Itu mutar cincin Zara dia ngelepasin Jampi jampi si Gai."

Tanya Zia ke Nek Sui.

"Betul! Dan bodohnya Zara semuanya di ceritain ke Gai. Jadi Gai tau kalo kiriman dia udah lepas di Zara, dia udah cari cara gimana biar Zara nurut sama dia. Waktu zara telponan sama Gai, itu Gai cuma mancing liat reaksi Zara masih nurut atau nyanggah. Ternyata Zara udah mulai nyanggah seraya mengomentari sifat Gai yang Asli. Itu pertama kalinya Zara sadar akan sifat Gai, Sama Gai yang sering ngingatin Zara waktu subuh itu bukan karena dia bangun subuh tapi karena dia baru mau tidur di jam segitu , Habis dia pulang senang senang itu.."

Ucap Nek Sui.

"Tapi Nek. Semua ini tu kayak gak masuk di akal sehat loh Nek."

Ucap Bian.

"Kalo aku sih, percaya aja bang. Ingat gak waktu aku ke cerita ke sayang Soal yang Abang aku dulu kan Tangannya bengkok di tepuk kuntil anak karena mereka mau ke pesta anaknya udah di dandanin cantik cantik. Eh malah di siram sama abang aku pakek air cucian tangan yang bercampur cabai sampai jadi bengkak dan terkilir seminggu itu." Ucap istri Bian (citra)

"Betul Cit, aku juga percaya Kok. Banyak kejadian yang sudah sudah. Bukan sekali dua kali dengar yang begini." Timpal istri Abil ke istri Bian.

"Kak Citra. Seriusan tangan abangnya Kak Citra bengkak dan terkilir karena numpahin air cucian tangan? Emang kuntinya ada di mana sampe anaknya kesiram?" Tanya sepupu Zara yang wanita

"Iya Del, kakak belum pernah cerita emang ke Adel sama yang lain. Waktu itu kan abangnya Kak sarah lagi makan kebetulan di kamar mereka makan bareng sama istrinya, kakak iparnya kak Sarah. Waktu sesudah makan itu Abangnya Kak Sarah ini cuci tangan di piring bekas dia pakai makan tadi, kan pake sambel tu. Otomatis pas cuci tangan juga airnya kena ke cabai jadi merah merah gitu, di buanglah sama abang ke bawah jendela kamar, gak taunya di bawah jendela abangnya kak Sarah itu ada kuntil anak yang lagi dandanin anak nya buat ke pesta malah ke siram air cabai. Jadi spontan lah ya naluri ibu ngeliat anaknya udah cantik cantik di dandanin malah di guyur air cabe, di tepuknya lah tangan Abangnya kakak jadi langsung melipat bengkok kek dalam kaya orang struk jadinya."

"Ngeri juga ya." Jawab adel.

"Memang itu kan ada di sekitar kita, cuma selagi dia gak ganggu kita jangan pula ganggu dia, biarlah kita hidup berdampingan." Ucap Nek Sui

"Udah sekarang fokusnya ke Zara dulu, Nenek mau pulang dulu, udahh jam 3 sore ayo antar Nenek."

Nen Sui menarik tangan Adel sepupu Zara.

"Owh. Iya Nek."

"Maksih ya Nek." Sarah mengantar Nek sui ke depan sementara yang lain fokus menjaga Zara.

~~~ Mendekati Adzan Maghrib~~~

Semua perlengkapan Mandi dan Kembang kembangan untuk Zara telah di siapkan sesuai dengan arahan Nek Sui.

"Sarah, Citra. Bunga nya udah pas 7 rupa?" Tanya Ibu Zara ke pada ke2 menantunya.

"Udah bu, tadi citra cari nya berbeda sama punya Sarah."

"Baguslah kalo udah pas. Kok ibu deg deg an ya?" Ibu Zara nampak sedikit cemas

"Gak apa apa bu, ada aku sama Citra. Ibu tenang aja. Kita semua ada di sini jagain Zara bu."

Sarah memeluk Mertuanya seraya menggosok pundak mertuanya pelan.

Zara di bawa Sarah menunju kamar mandi sudah berbalut kain jarik. Namun Zara masih terlihat linglung.

"Sini, Zara duduk sini dulu ya." Citra dan Zara mendudukan Zara di kursi pendek ukuran 30cm. Zara pun menurut memperhatikan wajah ibu dan ke2 kakak iparnya secara bergantian.

"Mandi?" Ucap Zara pelan seraya mengguk.

"Iya, mandi." Ucap ibunya Zara perlahan Menyiram pelan ke telapan tangannya Zara lebih dulu.

Ibu Zara melihat ke Sarah dan Citra. Ke dua menantu itu pun mengangguk.

"Bismillahirohmanirroihim. Pergilah jangan ganggu ini anak kesayangan kami semua."

Air kembang yang telah di siapkan tadi disiramkan ke Zara. Ekspresi Zara pertama kali airnya di siramkan dibatas kepalanya Melotot ke depan dengan tatapan kosong, bibir tersenyum tipis lalu menangis dengan nada sedih yang mendalam. Zara menangis seakan merasakan sesuatu paling sakit dalam hidupnya."

"Ibuuuuuu,,,, bu,,, ibu,,," Zara menangis memanggil ibuny.

"Iya Nak. Ibu disini. Kamu kenapa jadi begini Nak." Ibu Zara memeluk Zara.

"Ibuk, ayo abisin Airnya bu. Jangan terkecoh." Sarah dan Citra memegangi Zara.

"Ibuuuuuuu, ini Zara Bu. Zara sakiiit ibu siram dengan air itu bu, buang air itu bu, buaang bu." Zara merintih memohon ke ibunya. Ibu Zara bengong.

"Ibuu, tolong Zara bu. Tolong ibu. Zara sakit ibu kena air itu ibu. Air itu bohon ibu. Air itu dusta."

Zara mencoba meyakinkan ibunya.

"Lihat bu, Terkena air jampian dengan bunga tujuh rupa itu kulit Zara memar bu."

Zara memperlihatkan di sekujur tangannya penuh dengan Memar.

"Ibu mau obatin Zara, biar zara gak sakit lagi Nak."

"Ibuk ayo siram ke Zara." Ucap Citra. Ibu Zara menyiram kembali segayung air pemandian ke Zara. Zara berteriak merintih kesakitan.

"Ayo bu, terus." Ucap Sarah

"Ibu pembohong! Ibu berbohong sayang Zara. Ibu Jahat. Ibu tega lihat Zara Sakit di pegang gini." Zara merintih kesakitan. Ibu Zara kembali diam.

"Cit. Kamu pegang Zara kuat kuat ya."

Sarah melepaskan Zara yang di pegang kuat oleh Citra lalu mengambil gayung di ibu mertuanya.

"Ibuk mundur." Ucap Sarah ke mertuanya.

Byuuur. Air itu di siramkan tanpa henti oleh Sarah ke Zara. Zara berteriak kesakitan tak henti henti. Ibu Zara tidak kuat melihat anaknya sampai menangis menutupi mulutnya agar tidak bersuara lalu pingsan.

Anggota keluarga yang lain berusaha masuk mendengar teriakan Zara namun di cegah Citra.

"Jangan ada yang masuk. Cukup Albi dan Bian yang masuk." Pinta Citra dan semuanya pun menurut. Di kamar mandi hanya ada Sarah dan Citra kakak iparnya Zara.

Setelah mandi kembang Zara di balut handuk dan di tenangkan oleh Sarah dan Citra. Walaupun keduanya basah semua karena memandikan Zara, mereka tidak menggerutu justru jadi yang paling cepat responnya memperhatikan Zara. Sementara Ibu Zara masih di tenangkan keluarga yang lain di kamar.

"Kamu kenapa? Kamu mau apa? Jangan Ganggu adek saya ya? Kamu keluar."

Sarah menatap mata Zara yang tengah menangis tanpa beralih ke pandangan yang lain.

"Kamu tu beda alam sama kita, alam kalian ya alam kalian, jangan maksa masuk ke alam kami." Ucap Citra.

Zara hanya diam dan terus menangis tanpa Henti. Melihat Zara menangis tanpa henti Albi justru menarik Rambut Zara dan hendak ia arahkan ke Dinding namun di Cegah Sarah dan Citra.

"JANGAN!!!"

Lihat selengkapnya