"Sayuuuur sayuuuuuur."
Teriakan mamang sayur pagi pagi.
"Mang. Sayur."
Ucap ibunya Zara memanggil tukang sayur.
"Sayur bu Is. Udah lama gak beli sayuran Saya Bu Is." Ucap mamang sayur seraya menurunkan standar memarkirkan motornya
"Iya mang, soalnya dari seminggu lalu Ada menantu saya semuanya lagi pada kumpul sekarang. Mereka bawa sayuran banyak dari luar kota, jadi stok Lauknya jadi banyak." Jelas Bu Is ibunya Zara
"Owh. Begitu. Pantesan Udah seminggu gak beli sayuran saya. Saya kirain apa ganti langganan tukang sayur." Ucap mamang Sayur
"Ya nggak lah Mang. Kebetulan anak anak lagi pada kumpul semua soalnya si Zara lagi Sakit.Ini berapa Mang?"
Bu Is memisahkan 3 ikat sayur pakis.
"Sepuluh ribu aja buat bude Is."
"Eleh mamang bisa bisanya buat bu Is. Padahal emang biasanya juga sepuluh ribu atuh mang."
"Hehehehehehehe.. biasanya sih sembilan ribu bu. Lagi naik seribu sayurnya. Eh iya Bude, Zara Sakit apa?" Ucap mamang sayur.
"Demam Mang." Jawab bu Is singkat seraya memilah sayur.
"Udah di bawa ke dokter belum bude? Musim DBD sekarang ini."
"Udah di Obatin Mang. Udah sembuh anaknya."
"Syukurlah kalo udah Sehat. Pantesan gak pernah liat Zara seminggu ini. Biasanya pas saya keliling ada aja sepapasan sama Zara di jalan waktu Zara mau berangkat kerja.
"Iya Mang. Baru sehat anaknya."
"Bude Is, Bude Is."
Bu Irna memotong pembicaraan Bu Is dengan Mamang sayur. Bu Irna mengankat sedikit dasternya berjalan mendekati keranjang mamang sayur seraya memanggil Bu Is ibunya Zara.
"Eh, Bu Irna. Dari mana? Kok lari lari?"
"Kebetulan ketemu di sini. Aku mau nanya Bude." Ucap Bu Irna.
"Nanya apa Na? Kok serius sekali?" Tanya mamang Sayur penasaran.
"Bude malam tadi ada ngeras aneh gak sekeluarga?" Ekspresi Irna penasaran.
"Nggak ada sih Na. Cuma biasa Aja. Mungkin bawaannya agak lain karena Zara baru Sehat."
"Zara lagi sakit bude?" Tanya Irna kembali
"Iya. Dari seminggu lalu. Cuma ini udah sembuh."
"Pantesan gak pernah keliatan yak. Eh bude beneran gak ngerasa ada yang aneh kah?"
"Nggak ada Irna. Emangnya kenapa Na?"
"Malam tadi kan aku sama Mas Rian duduk duduk diteras rumah karena gak mau tidur. Kisaran jam 2 malem lah bude, Karena gak mau tidur dan ngerasa panas di rumah."
"Terus?" Sambung Bu Is.
"Yeeee,,,,, Saya kira mau nanya gak taunya cerita lu Na!" Mamang sayur meletakkan kembali sayur yang ia pegang saat mendengarkan cerita Irna."
"Bentar. Belum selesai ini." Sambung bu Irna
"Malam tadi waktu kami berdua duduk. Kami ngeliat ada bola api terbang ngarah ke rumah bude. Terus aku tunjuklah itu bola api. Apa itu kataku nanya sama Mas Rian."
~malam sebelum pagi~
"Kok tumben malam ini panas ya Mas. Udah Jam 2 subuh ini. Baru kali ini gerahnya gini banget."
"Iya dek. Apa mau masuk musim kemarau?"
"Eleh mana ada nya mau masuk musim kemarau jadi dingin gini."
Irna berkipaskan kertas duduk di teras rumahnya. Mata Irna melihat ke langit seperti melihat sesuatu sehingga Irna memfokuskan matanya sedikit menyipit.
"Mas!! Apa itu??" Irna menunjuk ke bola api yang mengarah ke rumah Zara namun tidak Sampai karena sudah padam sebelum sampai ke rumah Zara.
"Itu Banaspati dek." Ucap Rian ke istrinya.
"Banaspati apaan Mas??" Tanya Irna.
"Banaspati itu salah satu sosok cerita rakyat di Indonesia yang digambarkan kaya makhluk halus berwujud api kalo kata orang orang. Ya gitulah yang kamu liat tadi. Tapi Dalam dunia dukun banaspati disebut-sebut bagian dari ilmu hitam untuk mengirimkan santet." Ucap Rian.
"Untung gak Kena ke Rumah Zara. Untung kamu tunjuk." Sambung Rian kembali
"Emang kenapa kalo gak di tunjuk Mas?" Tanya Bu Irna penasaran bertanya ke Suaminya.
"Bisa kena ke rumah Zara. Kalo kena Rumah Zara bakalan kebakar rumah mereka. Karena nih ya Konon katanya. Banas pati gak bakalan sampe ke rumah yang di tuju kalo ada yang liat apalagi nunjuk dia." Rian suami Irna masih memantau Rumah Zara.
"Untung keliat ya Mas. Baru ini pertama kali duduk di luar rumah malam malam malah kelihatan Banaspati langsung. Amalan apa yang di buat keluarga Zara bisa langsung dilindungi."
"Orang baik bakalan di pertemukan dengan sesuatu yang baik, beda cerita orang baik bertemu orang jahat tidak ada timbal balik itu namanya bertamunya sial."
"Manusia penyakit hati yang memusuhi orang baik kaya keluarga Zara." Ucap Irna.
"Kadang kan kita gak tau ucapan dan tindakan mana yang menusuk hati orang lain bu." Rian menasehati Istrinya.
"Ayo masuk Mas. Udah malam. Kita tidur lagi. Udah dingin banget ini. Tadi panas. Eh mas. Itu siapa?" Irna menunjuk ke ke arah rumah Zara.
"Heey. Apa itu Bu? Tinggi banget badannya." Panggil Rian namun sosok tersebut menghilang ketika ia melihat lagi saat setelah melihat Irna sebentar.
"Iih serem mas. Apa itu ayo ayo masuk."
Irna mengajak Rian masuk ke dalam rumahnya.
~~~Mamang sayur~~~
"Jadi begitu bude ceritanya."
Jelas Irna memberitahu Bu Is.
"Banaspati itu beneran ada?" Tanya Mamang Sayur.
"Eh Mamang Gak percaya saya? Saya gak mengada ada loh ini." Irna meyakinkan Bu Is dan Mamang Sayur.
"Kamu liat langsung Na?"
"Iya Bude. Irna liat langsung. Kan tadi Irna Jelasin sama Bude kalo Irna yang nunjuk itu bola apinya ilang."
"Emang siapa yang kurang kerjaan ngirim Santet ke rumah bude Is. Orang bude Is gak pernah ada musuh dan orang yang benci ke mereka kok." Ucap mamang Sayur.