"Pernah bermasalah sama CEO kok bisa??" Tanya Albi.
"Ya bisaa." Jawab Zara singkat.
"Kata motivator, Yang miskin jangan lawan yang Kaya, yang Kaya jangan lawan pemerintah. Kalo lu dapat Keduanya, tamatlah sudah, alkisahnya."
"Lah emangnya perkara awalnya apaan? Itu mbak pacaran juga? Kok kami gak tau?"
Tanya Kai mendekati Zara.
"Dia ngajak nikah waktu itu. Udah serius mau nikah eh dia malah jujur semua tentang keluarganya dia dan masalalunya.." Jelas Zara di tengah Dapur yang mengebul itu
"Keluarganya gimana? Orang kaya? Pejabat juga??
"Bapaknya bestian sama Pejabat, cuma dia gak Akur sama Bapaknya karena dia selalu di tinggalin ke luar kota sama orang tua mereka. Jadi mereka di asuh sama Neneknya. CEO aku itu ada 3 bersaudara. Mereka ikut Nenek semua karena ortunya sibuk ngurisin urusan Kerjaan."
"Loh bagus CEO banyak duitnya."
Ucap Albi
"Gak!! Gue Gak setuju kalo sama CEO itu." Sanggah Sarah
"Gue juga Gak! Skip aja Skip itu CEO." Pinta Citra
"Lah gue tambah penasaran kalo gitu,kok bisa seorang CEO banyak duit di tolak cewek mana gak cantik dan gak kaya lagi."
Tanya Bian sambil di plototi istrinya.
"Bukan perkara banyak duit atau nggaknya. Karena kalo menikah itu butuh kompromi juga nanti ngerawat anak gimana, kedepannya bakalan gimana dan ngapain aja. Bukan sekedar nikah sama yang banyak Uang habis itu selesai. Apalagi masalalu nya parah. Mending yang itu gak usah di ingetin lagi." Ucap ibunya Zara menjelaskan ke Bian
"Ya itulah hebatnya tampang gue yang gak cantik ini. CEO aja suka apalagi gue Cantik. Lebih klepek klepek kurasa itu CEO." Jelas Zara ke Bian
"Masalalunya parah maksudnya di ngehamilin anak orang?" Tanya Kai penasaran.
"Lebih parah! Anak orang di tidurin giliran Hamil malah di kurung di sebuah rumah di jaga 3 cowok pas ngegugurin kandungan, Kalo terjadi apa apa tinggal bawa ke rumah sakit sama tiga cowok yang jaga itu sedangkan CEO nya santai tidur di rumahnya dia. cukup dengan uangnya dia ngerasa udah serasa punya dia dunia ini"
Sarah ngejelaskan membuat semua lelaki diam kemudian nyeletuklah Albi
"Ya Namanya juga Cowok. Semakin Kaya cowok semakin Nakal, kalo Cewe semakin Nakal ya semakin Kaya."
Jelas Albi
"Ya tapi gak Cocok buat jadi pasangan hidup."
Jelas Sarah.
"Dia juga niatnya mau bayi tabung aja, terus Anaknya harus Cowok jangan Cewek karena dia gak mau anak Ceweknya kena Karma dia."
"Dah, dah. Skip itu. Kayanya gak mungkin kalo dia Yang kirim Teluh." Ucap Bian.
"Coba kita ingat ingat lagi, siapa aja yang kita tawarin ke Mbak Zara mulai dari yang pertama." Ucap Kai.
"Yang pertama sekali sama Orang sunda itu kan? Si Hardi?" Ucap Citra.
Semuanya mencoba mengingat
~~Cowok K-1~~~
"Cowokmu mana Kak? Kami penasaran." Adel bertanya dengan Zara
"Katanya jam setengah 4 udah otw, sekarang kok udah jam setengah 6 belum keliatan. Padahal cuma 20 menit Jaraknya."
Zara menoleh ke arah Jalan tiada Henti.
"Perdana Nih zara ngenalin Cowok. Aku penasaran banget."
Sarah sibuk menyiapkan kue di piring, sementara Citra sibuk menggelar tikar dan menata teko dan cangkir serta minuman.
"Alhamdulillah berarti Normal." Sambung ibunya Zara.
"Ibuk nih." Citra tertawa.
"Ya habisnya udah 23 tahun gak pernah bawa cowok sekalipun. Bahkan teman cowok pun gak ada. Udah cemas ibuk kirain gak normal." Ucap ibunya Zara seraya merapikan bunga nya di ruang tamu.
"Gilaa. Disambut banget. Siapalah lelaki beruntung itu." Ucap Kai
"Aku juga penasaran. Zara gak mau ngasih liat fotonya pun dia gak sudi. Padahal nanti juga kita bakalan ketemu kan."
Ucap citra
"Kamu ketemu di mana emang dek?" Tanya Sarah ke Zara.
"Di tempat Jahit baju mbak. Dia lagi jahit juga." Jelas Zara
"Oalah. Cinta bersemi di jahitan." Sarah tersenyum.
Sejam berlalu. Semua anggota keluarga Zara sudah berputar putar posisinya duduk di tikar ada yang sudah rebahan, tengkurap, ada yang miring ada yang berdiri meregangkan kaki.
"Mana sih dek? Udah mau maghrib ini!" Albi berdiri melihat pintu rumah mereka gak ada satupun tamu yang datang.
"Tau nih Dek. Kami rela rela dari luar kota cuma mau liat cowokmu kok gak datang? Coba telpon lagi." Pinta Sarah yang sudah terkantuk.
Zara yang berulang kali menelepon tidak menemukan titik terang. Telpon Zara tidak pernah diangkat sekalipun.
"Masa dia Bohong sih?" Zara menunggu di teras rumah harap harap cemas.
"Mbak. Kayanya cowokmu itu gak bakalan datang deh. Masa udah 2 jam lebih kita nunggu gak nongol nongol dia. Apa dia kecelakaan??" Tanya sepupu pria Zara.
"Jangan ginilah. Masa keluarga udah kumpul dia gak datang." Zara mulai kesal.
"Zar. Masuk aja dulu."
Bibi Zara mengajak Zara masuk.
"Bentar Bi, ini tanggung nunggunya. Mungkin dia bentar lagi datang." Zara enggan masuk ke dalam rumah.
"Zar. Masuk aja dulu."
"Bentar Wak. Zara di sini Aja."
Semua keluarga Zara saling pandang dan kembali rebahan lesu.