Bukan Insan yang Baik

Wafiqah
Chapter #2

Rumah Hijau

Vandi mengeluarkan jip dengan atap tertutup yang sekian tahun tak pernah digunakan. Kata papanya, mobil itu masih bagus dan kuat digunakan untuk menempuh perjalanan di kawasan perbukitan atau pegunungan. Dulu mobil itu sering digunakan papanya untuk berburu. Kini papanya sudah tak lagi melakukan hobi berburunya.

Tujuh jam sudah Vandi mengemudi. Tak terasa sudah mendekati perkampungan yang dicari. Lokasi itu bisa cepat diketahuinya karena sudah terbiasa menyusuri berbagai tempat bersama teman-teman wartawan atau teman-teman fotografernya. Hanya alamat rumah itu saja yang belum jelas dan baru sekali mendengar.

Satu jam kemudian Vandi memperlambat laju mobilnya.

“Ini kan daerah hutan? Masa ada kampung di dekat hutan?”

Sejenak Vandi ingat bahwa kampung yang dicarinya berada di kaki gunung. Dan biasanya di kaki gunung ada hutan. Tapi yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah kampung itu berada di sebelah mana?

“Maaf, Kek, saya boleh tanya?” tanya Vandi pada seorang kakek.

Kakek itu mengawasi Vandi tanpa berkedip. “Tanya apa, Nak?”

“Kampung Randusari itu di mana ya, Kek?”

“Ini kampung Randusari, Nak.”

“Tapi…, mana rumah-rumah penduduknya? Kok sepertinya hutan saja yang kelihatan?”

“Sebetulnya Nak ini mau cari rumah siapa?”

“Tahu rumahnya Bapak Somad nggak, Kek?”

“Bapak Somad? Yang mana ya?” Kakek itu mengernyitkan dahi.

“Mm…, yang punya anak perempuan. Namanya Rosnah,” itu saja yang diingat Vandi.

“Ooh, masih jauh dari sini, Nak. Nak masih harus jalan lagi beberapa meter lurus dari sini, terus belok ke kanan beberapa meter. Nanti ada perempatan lagi belok ke kiri beberapa meter. Di sana ada rumah bercat hijau, tapi sudah agak usang. Saya kira di sekitar situ tempatnya. Saya juga kurang tahu, Nak. Maklumlah, kampung ini rumah-rumah penduduknya berjauhan.”

Lihat selengkapnya