“Dik, ibu mau minta tolong,” kata ibu itu.
Rosnah menghentikan pekerjaannya dan melihat ke arah ibu itu. “Ibu ini siapa dan mau apa datang ke sini?”
“Saya Bu Rusmiati. Saya datang ke sini ingin pinjam uang di koperasi ini, Dik.”
Rosnah memandangi wanita itu. Tampaknya wanita itu bukan anggota koperasi. Rosnah baru sekali ini melihatnya. Mungkin ia datang dari kampung lain.
“Begini, Bu. Untuk meminjam uang di koperasi ini, ibu tidak bisa pinjam begitu saja. Di sini ada syarat-syarat yang harus dipatuhi. Seperti besarnya uang yang hendak dipinjam, tujuan meminjam, besarnya bagi hasil, dan juga jaminan. Di sini uang tidak bisa cair begitu saja,” Rosnah memberi penjelasan.
“Ya, ibu mengerti. Tapi ibu butuh sekali uang itu, Dik.”
“Terus, ibu pinjam untuk apa?”
“Anak ibu sakit, ibu tidak punya biaya untuk membawanya ke rumah sakit. Jadi ibu mau pinjam uang ke sini.”
“Kalau untuk tujuan itu tidak bisa, Bu. Koperasi ini tujuannya untuk membantu orang-orang yang ingin mengembangkan usaha. Ibu cari saja pinjaman ke tempat lain.”
“Tapi…, harus pinjam ke mana, Dik? Saudara ibu jauh tempatnya. Tetangga ibu juga keadaannya sama dengan ibu. Ibu tidak tahu lagi harus pergi ke mana. Yang ibu tahu, di sini orang-orang bisa meminjam uang.”
“Tapi di sini tidak menerima alasan yang tidak disyaratkan. Tujuan ibu itu tidak ada dalam syarat dan peraturan kami. Jadi, ibu lebih baik pergi dari sini.”
Si ibu tampak terkejut mendengar pengusiran dari Rosnah. Beberapa saat ia masih terduduk.
“Tolonglah, Dik. Mungkin Adik tahu caranya agar alasan ibu bisa diterima?”
Sesaat Rosnah memandangi ibu itu dengan kesal. “Saya tidak bisa menolong. Saya hanya tahu kalau koperasi ini meminjamkan uang pada orang-orang yang ingin membuka usaha,” tukasnya.
Mendengar kata-kata itu, Bu Rusmiati langsung meninggalkan kantor koperasi.
***
Vandi yang sudah berlalu beberapa kilometer dari tempat kerja Rosnah, akhirnya sampai di sebuah toko cetak foto dengan papan nama yang sudah usang.