Niatku untuk bangun agak siang memang selalu digagalkan oleh desakan buang air. Damn! Bergegas, aku menerobos keluar kamar. Tidak ada toilet di kamar tidurku. Aku bukan anak CEO. Punya rumah yang nyaman seperti ini saja sudah bagus.
Seolah-olah kandung kemih punya mata, makin dekat tempatnya, keinginan pipis makin tak terbendung lagi. Rasa lega tak terkira saat akhirnya kulepas semua yang kuinginkan. Rupanya tisu toilet habis. Dasar bod ...
"Buuuk!" Tanpa berpikir panjang, aku menjerit.
Astaga, lupa. Ibumu sudah tidak ada, Kei. Sadarlah.
"Apa lagi, Kei?" Suara Ibu.
Namun, Ibu tidak benar-benar ada. Hanya residu di kepalaku yang terbiasa mendengar responsnya setiap kali aku memanggilnya. Selalu terdengar seperti orang yang muak dan lelah.