Laung akhirnya menerima panggilan telepon setelah aku memutuskan ini akan menjadi percobaan terakhir. Pada panggilan kelima, dia menjawab dengan suara serak dan aksen bataknya yang kental, "Apa kau, Kei?"
Pertanyaan singkat terdengar mengantuk itu terasa hangat di telingaku. Biarpun cowok itu terlihat sangar dan kasar dari luar, aku tahu dia selalu bisa kuandalkan.
"Ada mobil di halaman rumahku. Gimana ini?"
"Eh!" pekiknya.
Kudengar suara-suara dan jeda beberapa detik. Dalam bayangkanku, dia bangkit dari tidurnya untuk mendengarkanku dengan lebih saksama. "Kekmana? Apa katamu tadi?"
"Aku nggak tahu itu mobil siapa, tapi parkir di halamanku. Nggak ada orangnya."
"Saudaramu dari luar kota mungkin, Kei."
"Enggak, Laung. Aku yakin bukan. Ada sesuatu yang nggak beres. Ini bukan tamu biasa."
"Ah, jadi ikut takut pulak aku, Kei. Udah ... kau tunggu aku, ya. Aku ke sana! Kau jangan keluar. Diam dan pantau dari dalam rumah sampai aku datang."
Ketika Laung mematikan sambungan telepon, rasa khawatirku yang lain malah muncul. Bagaimana kalau memang yang datang ini orang jahat? Bisa-bisa Laung yang kena saat dia sampai di sini. Aku mencoba meneleponnya lagi, tetapi tak diangkat.
Kembali mengintip dari balik tirai, aku mengamati dan menunggu tanpa suara. Tidak ada pergerakan apa pun dari luar sana. Sunyi, sepi seperti hari-hari biasa. Kulihat ponselku, sudah hampir jam setengah lima. Aku mengirim pesan kepada Laung agar berhati-hati. Kuyakin dia tak membacanya lagi. Namun, aku telah kehilangan akal. Dia tak lagi menjawab panggilan teleponku.
Lima belas menit adalah waktu yang biasa Laung habiskan untuk sampai ke rumahku dari rumahnya. Benar saja, tepat lima belas menit kemudian, suara motornya sudah kudengar di kejauhan. Makin khawatir, aku memastikan tidak ada orang yang tiba-tiba muncul untuk bersiap-siap menyambut kedatangan Laung selain aku. Suara motor yang berisik itu pasti mengganggu siapa pun yang bersembunyi di sekitar siniājika ada.
Pada detik ini, aku menyesal telah menelepon Laung. Kalau terjadi apa-apa padanya karena aku, beban apa yang akan kubawa seumur hidup? Ibuku baru mati, lalu sahabatku juga? Ah, pikiranku. Tidak boleh memikirkan yang tidak-tidak. Ayo, positif saja dulu.