Bukan Jalan Pulang

Yunita R Saragi
Chapter #3

Bukit Eucalyptus

Terlalu banyak menguap, sampai-sampai Laung menepuk kepalaku dari belakang.

"Ngopi dulu nah."

"Makasih," kataku sambil menerima segelas kopi dari tangannya.

"Udah, ayo, ikut aja. Siapa tahu ini bisa buatmu lupa sama kejadian tadi." Dia menyeruput kopinya setelah itu.

Aku menarik napas, lalu menyeruput kopi juga, tetapi dengan pikiran ke mana-mana. Ikut atau tidak ikut, tidak ada yang lebih baik daripada yang lainnya. Sebenarnya ini menyedihkan. Laung sudah berhasil menyeretku ke rumah Pak Tupang yang kini menjadi posko para korban PHK PT. Asri Pulp. Dengan harapan aku bisa mengalihkan pikiran dari yang sedih menjadi lebih baik. Laung begitu yakin aku bisa lebih bahagia jika ikut demo lanjutan dengan misi menuntut pesangon dinaikkan 6 persen.

"Udahlah, Laung. Aku pulang aja. Ini sia-sia. Lagian aku benar-benar lagi nggak mood."

"Justru kalau mood lagi jelek, bagus untuk unjuk rasa. Itu bisa buat kau lebih marah! Bayangkan hidupmu sekarang. Sudahlah di-PHK, pesangon pun tak sesuai dengan yang dijanjikan. Belum lagi ditambah beban-beban penderitaan lainnya. Ibumu. Bapakmu...."

Aku memicingkan mata memandang Laung. Tak kusangka pria yang tadi Subuh kuanggap pahlawan dan rela mengangkat senjata demi aku, sekarang tidak memiliki empati sama sekali. Bahkan dengan santainya mengabsen satu per satu penderitaan yang kualami dan menjadikannya sebuah energi bagus untuk unjuk rasa. Damn!

Sedikit mendengkus sebelum aku berdiri dengan muak. Aku meninggalkan Laung.

"Mau ke mana kau?"

"Pulang."

"Tunggu!"

Laung mensejajari langkahku. "Maaf kalau kau tersinggung."

"Udah, Laung. Aku benar-benar nggak ada tenaga hari ini. Besok-besok kalau ada gerakan lagi aku ikut."

"Ya, udah. Kau pulanglah. Bawa motorku saja. Aku harus di sini, sudah janji ikut. Tenangkan dirimu, ya."

Lihat selengkapnya