Aku dan Laung terduduk di ruang tengahku dalam kondisi ngos-ngosan. Aku kurang memahami apa yang terjadi. Namun, semua terlihat genting. Mulai dari kondisi posko Pak Tupang yang berantakan. Ralat. Bukan hanya berantakan, melainkan bagian terasnya sudah terbakar.
Maksudnya, kami dan orang-orang yang berkumpul di sini adalah bagian yang menuntut. Biasanya yang berbuat anarkis tentu kami. Lantas, mengapa posko ini yang porak-poranda? Laung berlari ke arahku. Kaus hijaunya basah kecokelatan. Saat dia mendekat, aku baru tahu itu darah.
"Kenapa, Laung!"
"Awas kau!" katanya sambil mengambil alih kendali motornya.
Aku turun dari motor dan langsung duduk di jok belakang. Laung segera menarik gas dengan kecepatan penuh. Aku tidak berani bertanya sepanjang jalan. Hanya Laung yang berkali-kali mengatakan.
"Jahat, Kei. Mereka jahat. Kita diadu domba."
"Siapa yang mengadu domba?"
"Asri Pulp. Siapa lagi?"
"Maksudnya?"
"Nanti aku ceritakan. Aku harus cepat sembunyi."
Aku diam, Laung pun juga. Tadi, sepanjang perjalanan aku melihat banyak kekacauan. Kendaraan lalu-lalang dengan panik. Benar-benar chaos seperti yang diteriakkan Laung di telepon.
"Kau mau minum?" Kupikir pertanyaanku cukup berhasil memecah ketegangan ini.
Anggukan Laung membawaku ke dapur dan mengambilkan air putih. Saat aku kembali, Laung sudah membuka bajunya.