Blurb
Sony hanya ingin satu hal: membuat uangnya berkembang.
Dengan tabungan Rp50 juta dan rencana menikah dengan Maya yang harus ditunda karena mereka belum siap secara finansial, Sony mulai mengenal dunia saham. Awalnya sederhana-ia berpikir seperti seorang pedagang: beli murah, jual mahal.
Ketika saham pertamanya naik, Sony merasa telah menemukan jalan cepat menuju kehidupan yang lebih baik. Namun ketika harga tiba-tiba jatuh, ia panik. Saat itulah Sony bertemu Bima, seorang investor yang mengajarinya melihat saham dengan cara yang sama sekali berbeda.
"Ketika kamu membeli saham, kamu bukan membeli angka yang bergerak di layar. Kamu membeli bagian dari sebuah bisnis."
Dari Bima, Sony mulai belajar memahami perusahaan: bagaimana menghasilkan laba, menggunakan modal, mengelola utang, menciptakan nilai, dan yang tak kalah penting-berapa harga yang pantas untuk membelinya.
Tetapi perjalanan itu tidak mudah. Keserakahan, ketakutan, keuntungan cepat, saham yang jatuh, dan godaan untuk ikut-ikutan terus menguji Sony.
Bukan Main Saham bukan sekadar kisah tentang mencari keuntungan di bursa. Ini adalah perjalanan seorang pemuda belajar mengubah cara pandangnya terhadap uang, bisnis, risiko, dan masa depan.
Karena pada akhirnya, menjadi investor bukan tentang mengetahui saham apa yang akan naik besok.
Melainkan belajar menjawab pertanyaan:
"Bisnis apa yang layak saya miliki, dan berapa harga yang pantas saya bayar?"