BAB 3 WARUNG BIMA
Sabtu pagi, Sony tidak pergi ke mana-mana.
Ia duduk di depan laptop dengan secangkir kopi yang sejak tadi belum disentuh.
Di layar terbuka grafik saham yang dibelinya.
Merah.
Sony menatapnya cukup lama.
Semalam ia masih berharap harga kembali naik. Pagi ini harapannya sedikit berubah menjadi kecemasan.
Kemudian ponselnya berbunyi.
Pesan dari Maya.
"Jangan terlalu dipikirkan ya, Son. Kita masih punya waktu. Yang penting kita sama-sama berusaha."
Sony membaca pesan itu berulang kali.
Maya tidak meminta uang.
Tidak menuntut pesta besar.
Ia hanya ingin mereka tidak memulai rumah tangga dengan kondisi keuangan yang rapuh.
Sony merasa bersalah.
Ia ingin segera melakukan sesuatu.
Tetapi apa?
Bekerja lebih keras?
Mencari pekerjaan tambahan?
Membuka usaha?
Atau menghasilkan uang dari saham?
Pertanyaan terakhir kembali muncul.
Sony membuka grup WhatsApp.
Seseorang baru saja mengirim pesan.
"Kalau mau belajar investasi, coba ngobrol sama Bima."
Di bawahnya ada alamat sebuah warung sederhana.
Sony sebenarnya tidak mengenal Bima.
Tetapi karena tidak punya pilihan lain, siang itu ia pergi ke sana.
Warung Bima ternyata tidak seperti yang dibayangkan Sony.
Tidak ada komputer dengan enam monitor.
Tidak ada ruangan ber-AC.
Tidak ada orang-orang sibuk melihat grafik.
Hanya sebuah warung kecil di pinggir jalan.
Bima sedang duduk di belakang meja sambil menghitung uang kembalian.
Sony memperkenalkan diri.
"Mas Bima?"
"Iya."
"Saya Sony. Dapat nomor dari Andi."
Bima mengangguk.
"Duduk."
Sony duduk.
"Katanya kamu mau belajar saham?"
"Iya."
"Sudah punya saham?"
"Sudah."
"Bagus."