BAB 6 HARGA SEBUAH BISNIS
Senin malam, Sony kembali duduk di depan laptop.
Di sampingnya ada secangkir kopi dan buku catatan yang mulai penuh.
Di halaman pertama tertulis:
JANGAN MEMBELI APA YANG TIDAK KITA PAHAMI.
Di bawahnya:
BISNIS → LABA → UTANG → ROE
Malam itu ia menambahkan satu pertanyaan:
HARGANYA BERAPA?
Ponselnya berdering.
Bima.
"Sudah siap?"
"Siap."
"Sekarang kita belajar PER."
Sony membuka catatan.
"Price Earning Ratio?"
"Betul."
"Artinya?"
Sony terdiam.
Bima tertawa.
"Jangan hafalkan kepanjangannya dulu. Bayangkan kamu mau membeli sebuah warung."
"Lagi-lagi warung."
"Karena kamu lebih mudah memahami warung daripada perusahaan miliaran rupiah."
Sony tertawa.
"Baik."
"Warung itu menghasilkan laba bersih Rp100 juta setahun."
"Ya."
"Kemudian pemiliknya meminta Rp1 miliar untuk menjual warung itu."
Sony menghitung cepat.
"Berarti saya membayar sepuluh kali laba tahunannya."
"Nah. Itu gambaran sederhana PER."
Sony mulai mengerti.
"Jadi kalau perusahaan menghasilkan laba Rp100 juta dan harganya seolah-olah Rp1 miliar, PER-nya 10 kali."
"Benar."
"Kalau harganya Rp2 miliar?"
"PER 20 kali."
Sony mengangguk.
"Berarti semakin kecil PER semakin murah?"
Bima tidak langsung menjawab.
Sony sudah tahu tanda-tanda jawaban jebakan.
"Jangan bilang belum tentu."
Bima tertawa.
"Belum tentu."
Sony menggeleng.
"Kenapa?"
"Karena perusahaan berbeda. Kamu tidak bisa hanya membandingkan angka tanpa memahami bisnisnya."
Bima mengambil contoh sederhana.
"Misalnya ada dua warung."