BAB 9 KETIKA PASAR BERBALIK
Kamis pagi, Sony sedang membuat kopi ketika ponselnya berbunyi berkali-kali.
Notifikasi masuk bertubi-tubi.
Ia membuka aplikasi saham.
Matanya langsung tertuju pada satu angka.
-12,8%.
Sony membeku.
Kemarin saham itu masih terbang.
Sekarang jatuh.
Ia membuka grafik.
Turun tajam.
Grup WhatsApp lebih kacau lagi.
"Ada apa ini?"
"Jual sekarang!"
"Jangan panik!"
"Besok bisa turun lagi!"
Sony membaca berita yang beredar.
Perusahaan tersebut mendapat kabar yang membuat pasar kecewa. Tidak berarti bisnisnya bangkrut. Tidak berarti seluruh usahanya hancur.
Tetapi ekspektasi investor berubah.
Dan pasar tidak menunggu.
Harga langsung bereaksi.
Sony menatap portofolionya.
Keuntungan yang beberapa hari lalu membuatnya bangga kini menyusut drastis.
Tangannya dingin.
Ia hampir menekan tombol JUAL.
Kemudian teringat Bima.
"Kalau harga turun, jangan langsung bertanya harus jual atau tidak. Tanya dulu: apa yang berubah dari bisnisnya?"
Sony meletakkan ponsel.
Ia membuka laporan perusahaan.
Pendapatan.
Laba.
Utang.
Arus kas.
Ia membandingkannya dengan kondisi sebelum saham jatuh.
Beberapa hal memang berubah.
Tetapi tidak semuanya.
Sony mulai berpikir.
Jadi harga saham bisa jatuh meskipun perusahaan belum berubah separah itu?
Ia segera menelepon Bima.