BUKAN MAIN SAHAM

Prasetya
Chapter #10

BAB 10 UANG YANG PULANG

BAB 10 UANG YANG PULANG

Sabtu pagi, Sony datang ke warung Bima lebih awal.

Kali ini ia tidak membawa pertanyaan tentang saham yang naik atau turun.

Ia membawa sebuah buku catatan.

"Mas."

"Ya?"

"Kenapa perusahaan membagikan dividen?"

Bima tersenyum.

"Nah. Akhirnya kamu sampai juga ke sini."

Sony duduk.

"Kalau saya punya perusahaan dan perusahaan itu untung, saya bisa ambil sebagian keuntungannya?"

"Kalau perusahaan memutuskan membagikan laba kepada pemegang saham, ya."

"Berarti dividen itu seperti gaji?"

"Bukan."

"Bunga?"

"Bukan juga."

"Terus?"

Bima mengambil sebuah kertas.

"Bayangkan kamu dan saya patungan membuka warung."

"Misalnya saya punya 40 persen."

"Setelah satu tahun, warung menghasilkan laba bersih Rp100 juta."

Sony mengangguk.

"Kalau seluruh laba kita tahan untuk memperbesar warung, kita tidak menerima uang sekarang."

"Benar."

"Kalau sebagian laba dibagikan kepada pemilik, kamu menerima bagian sesuai kepemilikanmu."

Sony tersenyum.

"Berarti dividen adalah bagian keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham."

"Betul."

Sony menulis besar-besar:

DIVIDEN = BAGIAN LABA YANG DIBAGIKAN KEPADA PEMEGANG SAHAM

Kemudian ia menatap Bima.

"Kalau begitu perusahaan yang dividen besar pasti bagus?"

Bima langsung tertawa.

"Kamu ini selalu ingin mencari jawaban yang cepat."

"Kan saya belajar."

"Justru karena belajar, kamu harus tahu bahwa tidak ada satu angka yang bisa menjawab semuanya."

Bima mengambil contoh lain.

"Bayangkan kamu punya usaha yang sangat bagus. Setiap tahun labanya Rp100 juta."

"Ya."

"Kamu punya dua pilihan."

"Pertama?"

"Ambil seluruh keuntungan untuk kebutuhan pribadi."

"Yang kedua?"

"Sebagian keuntungan digunakan untuk membuka cabang baru."

Sony mulai memahami.

"Kalau cabang baru itu bisa menghasilkan keuntungan besar, lebih baik uangnya diputar kembali."

"Benar."

"Jadi perusahaan yang tidak membayar dividen belum tentu buruk."

"Betul."

"Karena mungkin laba ditahannya untuk mengembangkan bisnis."

Bima mengangguk.

"Dan sebaliknya, perusahaan yang membayar dividen besar belum tentu lebih baik. Kita harus melihat apakah bisnisnya masih punya kemampuan tumbuh dan menghasilkan uang."

Sony mencatat lagi.

Lihat selengkapnya