BUKAN MAIN SAHAM

Prasetya
Chapter #11

BAB 11 HARGA YANG WAJAR

BAB 11 HARGA YANG WAJAR

Pagi itu Sony datang ke warung Bima membawa selembar kertas.

Di atasnya tertulis tiga kata:

NILAI INTRINSIK

Bima membacanya.

"Sudah mulai serius."

"Saya penasaran."

"Dengan apa?"

"Bagaimana kita tahu harga saham itu murah atau mahal?"

Bima tersenyum.

"Itu pertanyaan yang bagus."

"Kalau PER dan PBV bisa membantu, kenapa masih perlu nilai intrinsik?"

"Karena rasio hanya memberi kita petunjuk. Kalau kamu benar-benar ingin membeli sebuah bisnis, kamu perlu mencoba memperkirakan berapa nilai bisnis tersebut."

Sony mengangguk.

"Caranya?"

"Bayangkan kamu membeli pohon mangga."

Sony tertawa.

"Kenapa selalu warung dan pohon?"

"Karena manusia lebih mudah memahami benda nyata daripada angka di layar."

Bima melanjutkan.

"Pohon itu menghasilkan seratus buah setiap tahun. Tahun depan mungkin seratus sepuluh. Tahun berikutnya seratus dua puluh. Kamu bisa memperkirakan berapa buah yang akan dihasilkan selama beberapa tahun."

"Lalu?"

"Buah itu punya nilai ekonomi. Begitu juga perusahaan. Perusahaan menghasilkan uang. Kita mencoba memperkirakan kemampuan perusahaan menghasilkan uang di masa depan."

Sony mulai mencatat.

"Jadi nilai perusahaan berasal dari kemampuan menghasilkan uang?"

"Secara sederhana, iya."

Bima kemudian membuat contoh.

"Misalnya ada perusahaan yang menurut analisismu mampu menghasilkan laba Rp10 miliar tahun ini."

"Lalu?"

"Kalau bisnisnya tumbuh 10 persen per tahun, laba masa depannya bisa lebih besar."

Sony mengangguk.

"Tapi masa depan tidak pasti," kata Bima.

"Kenapa?"

"Karena kita tidak bisa melihat masa depan."

"Jadi nilai intrinsik juga tidak pasti?"

"Persis."

Sony berhenti menulis.

"Berarti kita sebenarnya cuma memperkirakan?"

"Ya."

"Kalau begitu bagaimana bisa yakin?"

Bima tersenyum.

"Kita tidak perlu yakin seratus persen."

Sony menatapnya.

"Yang kita perlukan adalah margin of safety."

Bima menulis dua angka.

Nilai wajar: Rp1.000

Harga pasar: Rp700

Sony langsung memahami.

"Kalau saya yakin nilai wajarnya sekitar seribu, membeli di tujuh ratus memberi jarak aman."

"Betul."

"Kalau saya salah menghitung?"

"Kesalahan masih mungkin terjadi. Itulah gunanya margin of safety."

Sony mengangguk pelan.

Untuk pertama kalinya ia memahami mengapa investor tidak selalu membeli ketika menemukan perusahaan bagus.

Karena bahkan analisis terbaik pun bisa salah.

Lihat selengkapnya