BUKAN MAIN SAHAM

Prasetya
Chapter #12

BAB 12 SAAT SEMUA ORANG TAKUT

BAB 12 SAAT SEMUA ORANG TAKUT

Selasa pagi, pasar belum buka.

Sony sudah duduk di depan laptop.

Di sampingnya ada kopi yang mulai dingin.

Sejak beberapa minggu terakhir, ia semakin terbiasa membaca laporan keuangan. Tidak lagi sebanyak dulu, tetapi sekarang ia tahu apa yang ingin dicari.

Pendapatan.

Laba.

Utang.

Arus kas.

ROE.

Valuasi.

Dan yang paling penting:

apa yang membuat bisnis itu bernilai?

Hari itu Sony sedang memperhatikan satu perusahaan yang sudah lama masuk daftar pengamatannya.

Perusahaan yang menurutnya bagus.

Bisnisnya jelas.

Labanya tumbuh.

Utangnya terkendali.

Manajemennya cukup baik.

Dan selama beberapa bulan terakhir Sony terus menunggu.

Bukan menunggu harga naik.

Ia justru menunggu harga turun ke tingkat yang menurutnya menarik.

Pukul sembilan tepat.

Pasar dibuka.

Harga saham itu turun.

Sony tersenyum.

"Kesempatan."

Lima menit kemudian turun lagi.

Sony membuka laporan perusahaan.

Tidak ada kabar buruk dari sisi bisnis.

Turunnya harga ternyata dipicu sentimen pasar yang sedang negatif.

Sony mulai menghitung.

Harga sebelumnya Rp1.000.

Sekarang Rp850.

Menurut perhitungannya, nilai wajarnya berada di kisaran Rp1.100–Rp1.200.

"Murah," gumamnya.

Tangannya mendekati tombol beli.

Namun tiba-tiba harga turun lagi.

Rp800.

Sony terdiam.

Grup WhatsApp mulai ramai.

"Crash!"

"Jangan beli dulu!"

"Bisa turun lebih dalam!"

"Cash is king!"

Sony membaca semuanya.

Jantungnya mulai berdegup.

Ia membuka kembali perhitungannya.

Rp800 masih di bawah perkiraan nilai wajarnya.

Tetapi kalau turun menjadi Rp700?

Bagaimana kalau Rp600?

Bagaimana kalau pasar benar-benar mengetahui sesuatu yang tidak ia ketahui?

Sony berhenti.

Untuk pertama kalinya ia mengalami keadaan yang sering dibicarakan Bima:

ketika otak mengatakan beli, tetapi perasaan mengatakan lari.

Sony menelepon Bima.

"Mas."

"Ya?"

"Harganya jatuh."

"Aku tahu."

Lihat selengkapnya