BAB 14 BERAPA UANG YANG KITA BUTUHKAN ?
Malam itu Sony tidak membuka aplikasi saham.
Ia membuka kalkulator.
Di meja ada buku catatan, secangkir kopi, dan selembar kertas.
Di bagian atas ia menulis:
TARGET KEUANGAN
Kemudian ia menatap tulisan itu cukup lama.
Selama ini ia selalu berpikir:
Bagaimana caranya uang saya menjadi lebih banyak?
Sekarang pertanyaannya berubah:
Sebenarnya saya butuh berapa banyak?
Besok paginya Sony membawa catatan itu ke warung Bima.
"Mas, saya mau menghitung sesuatu."
"Apa?"
"Berapa uang yang saya butuhkan supaya hidup saya lebih tenang."
Bima tersenyum.
"Nah. Ini justru lebih penting daripada mencari saham yang naik."
Sony mengangguk.
"Saya selama ini cuma berpikir bagaimana investasi menghasilkan uang."
"Sekarang?"
"Saya ingin tahu uang itu untuk apa."
Bima mengambil kertas.
"Mulai dari pengeluaran."
Sony menyebutkan satu per satu.
Makan.
Transportasi.
Listrik.
Internet.
Kebutuhan rumah.
Kebutuhan orang tua.
Dan berbagai pengeluaran kecil yang selama ini tidak pernah ia hitung.
Bima menjumlahkan.
"Misalnya kebutuhan hidupmu Rp5 juta sebulan."
"Berarti Rp60 juta setahun."
"Benar."
Sony mengangguk.
Bima kemudian bertanya,
"Kalau besok kamu kehilangan pekerjaan, berapa lama kamu masih bisa hidup?"
Sony terdiam.
"Belum tahu."
"Nah. Sebelum memikirkan investasi, pikirkan dana darurat."
Sony mencatat.
DANA DARURAT.
"Berapa?"
"Tidak ada angka yang cocok untuk semua orang. Tergantung kondisi dan tanggunganmu."
Sony mulai memahami.
Ternyata investasi bukan langkah pertama.