BUKAN MAIN SAHAM

Prasetya
Chapter #15

BAB 15 TERLALU BANYAK TELUR

BAB 15 TERLALU BANYAK TELUR

Sony menatap layar laptop.

Di sana ada daftar saham yang ia miliki.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Lima.

Kemudian ia menambahkan satu lagi.

Enam perusahaan.

Sony tersenyum.

"Sudah aman."

Ia teringat nasihat yang pernah ia baca:

Jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang.

Maka ia melakukan apa yang menurutnya benar.

Ia menyebar uangnya ke banyak saham.

Kalau satu turun, yang lain mungkin naik.

Sederhana.

Masuk akal.

Tetapi ketika bertemu Bima sore itu, ia justru mendapat pertanyaan yang membuatnya bingung.

"Berapa perusahaan yang kamu punya sekarang?"

"Enam."

"Kenapa enam?"

"Diversifikasi."

Bima mengangguk.

"Bagus."

Sony tersenyum puas.

"Tapi kamu paham semuanya?"

Sony terdiam.

"Ya... kira-kira."

"Kira-kira?"

"Tidak semuanya sedalam yang tiga saham pertama."

Bima menatapnya.

"Berarti kamu bukan sedang melakukan diversifikasi."

"Terus?"

"Kamu sedang membeli banyak hal supaya merasa aman."

Sony mengerutkan kening.

"Bukankah semakin banyak saham semakin aman?"

"Tidak selalu."

Bima mengambil enam kelereng dari atas meja.

Ia meletakkannya berjajar.

"Bayangkan setiap kelereng adalah satu bisnis."

Sony mengangguk.

"Kalau kamu punya satu bisnis dan bisnis itu bermasalah, seluruh uangmu ikut terdampak."

"Benar."

"Kalau punya enam bisnis yang berbeda, masalah satu bisnis tidak otomatis menghancurkan seluruh portofolio."

Sony mengangguk lagi.

"Nah, itu manfaat diversifikasi."

"Berarti saya benar."

"Sebagian."

Bima kemudian mengambil satu kelereng.

"Masalahnya, kalau kamu punya terlalu banyak bisnis yang tidak kamu pahami, bagaimana kamu tahu kalau salah satunya mulai bermasalah?"

Sony terdiam.

Bima melanjutkan.

"Misalnya kamu punya dua puluh saham. Ada perusahaan yang laba turun, utangnya naik, manajemennya bermasalah. Kamu tidak tahu karena terlalu banyak yang harus diperiksa."

Sony mulai memahami.

"Jadi diversifikasi bukan sekadar memperbanyak saham."

"Betul."

"Melainkan menyebarkan risiko pada investasi yang memang kita pahami."

"Sekarang kamu mulai menangkap maksudnya."

Malamnya Sony membuka portofolionya.

Ia melihat saham pertama.

Lihat selengkapnya