BAB 16 KETIKA CERITA BERUBAH
Sony membaca berita itu untuk ketiga kalinya.
Ia masih berharap dirinya salah memahami.
Tetapi tidak.
Perusahaan yang selama ini menjadi salah satu andalan portofolionya mengumumkan rencana besar.
Akuisisi perusahaan lain.
Nilainya sangat besar.
Pasar langsung bereaksi.
Harga saham turun tajam.
Sony tidak langsung menjual.
Ia teringat pelajaran Bima.
Jangan bereaksi terhadap harga sebelum memahami apa yang terjadi pada bisnis.
Ia membuka laporan resmi perusahaan.
Membaca penjelasan manajemen.
Kemudian mencari informasi tentang perusahaan yang akan diakuisisi.
Semakin lama membaca, semakin banyak pertanyaan muncul.
Apakah akuisisi itu akan menambah laba?
Apakah perusahaan membayar terlalu mahal?
Bagaimana pembiayaannya?
Apakah utang akan meningkat?
Apakah manajemen mampu mengintegrasikan bisnis baru?
Sony menulis semuanya di buku.
Untuk pertama kalinya, ia merasa seperti pemilik usaha sungguhan.
Bukan sekadar pemegang saham.
Siang harinya Sony datang ke warung Bima.
"Mas."
"Sudah baca?"
"Sudah."
"Menurutmu bagaimana?"
Sony membuka catatannya.
"Saya belum tahu."
Bima tersenyum.
"Jawaban yang bagus."
Sony agak heran.
"Kenapa?"
"Karena kalau kamu langsung bilang bagus atau jelek tanpa memahami akuisisinya, berarti kamu sedang menebak."
Sony menunjukkan catatannya.
"Saya coba hitung dampaknya terhadap laba."
"Bagus."
"Tapi saya masih belum yakin."
"Memang tidak perlu buru-buru yakin."
Bima kemudian berkata,
"Dalam investasi, ada dua jenis ketidaktahuan."
"Apa?"
"Yang pertama, kamu tidak tahu dan kamu sadar tidak tahu."
Sony mengangguk.
"Yang kedua?"
"Kamu tidak tahu, tetapi merasa tahu."
Sony tersenyum.
"Yang kedua lebih berbahaya."
"Jauh lebih berbahaya."