BAB 18 PARIT DI SEKITAR BISNIS
"Mas, saya punya pertanyaan."
Bima bahkan belum sempat membuka menu ketika Sony sudah duduk di depannya.
"Kelihatannya serius."
"Serius."
"Apa?"
Sony membuka buku catatannya.
"Kenapa ada perusahaan yang sudah puluhan tahun tetap menghasilkan uang, sementara perusahaan lain yang kelihatannya hebat tiba-tiba hilang?"
Bima tersenyum.
"Karena bisnis bukan cuma soal menghasilkan uang hari ini."
"Terus?"
"Yang lebih penting adalah kemampuan mempertahankan keuntungan itu di masa depan."
Sony mengangguk.
"Ini yang disebut moat?"
"Ya."
Bima menggambar sebuah kastel di kertas.
Di sekelilingnya ia menggambar parit berisi air.
"Dulu kastel dilindungi parit. Musuh sulit masuk."
"Dan dalam bisnis?"
"Moat adalah keunggulan yang membuat pesaing sulit merebut pelanggan dan keuntungan perusahaan."
Sony menulis:
MOAT = KEUNGGULAN KOMPETITIF YANG SULIT DITIRU
"Contohnya?"
Bima mulai menghitung dengan jari.
"Pertama, merek yang sangat kuat."
"Seperti?"
"Bayangkan kamu menjual dua produk yang sama. Satu tidak punya nama. Satu lagi punya merek yang dipercaya orang selama puluhan tahun."
"Orang mungkin bersedia membayar lebih untuk merek yang mereka percaya."
"Betul."
"Kedua?"
"Biaya yang lebih rendah."
"Artinya perusahaan bisa menjual dengan harga kompetitif tetapi tetap mendapat laba."
"Ya."
"Ketiga?"
"Network effect."
Sony mengerutkan dahi.
"Jaringan?"
"Semakin banyak orang menggunakan sebuah platform, semakin berharga platform itu."
Sony mulai memahami.
"Seperti pasar yang semakin ramai. Orang datang karena banyak penjual, penjual datang karena banyak pembeli."
"Persis."
"Yang keempat?"
"Switching cost."
"Biaya pindah?"
"Bukan hanya uang. Bisa berupa waktu, data, kebiasaan, pelatihan, atau risiko. Kalau pelanggan sangat sulit berpindah ke pesaing, perusahaan punya perlindungan."
Sony menulis semuanya.
"Tapi Mas," katanya kemudian, "kalau perusahaan punya moat, berarti sahamnya bagus?"
"Belum tentu."
Sony tertawa.
"Lagi-lagi belum tentu."