BAB 20 KAPAN HARUS MENJUAL?
"Mas, saya mau jual."
Bima yang sedang menuangkan kopi berhenti.
"Kenapa?"
"Harga saham saya sudah naik 40 persen."
"Terus?"
"Ya... ambil untung."
Bima tersenyum.
"Kalau naik 40 persen berarti perusahaan sudah tidak bagus?"
"Belum tentu."
"Kalau begitu kenapa mau jual?"
Sony terdiam.
"Karena takut nanti turun lagi."
Bima mengangguk.
"Nah. Itu jawaban yang jujur."
Sony membuka catatannya.
Di sana ada harga belinya.
Rp800.
Sekarang:
Rp1.120.
Keuntungan di layar:
+40%.
Angka itu membuat Sony tergoda.
Empat puluh persen bukan angka kecil baginya.
Ia membayangkan kalau semua sahamnya naik seperti itu.
Tetapi Bima bertanya,
"Ketika kamu membeli di Rp800, apa alasanmu?"
Sony membaca catatan lamanya.
Bisnis bagus.
Laba tumbuh.
ROE sehat.
Utang terkendali.
Moat kuat.
Harga di bawah nilai wajarnya.
Bima menunjuk catatan itu.
"Apakah semuanya masih berlaku?"
Sony memeriksa laporan terbaru.
"Masih."
"Pertumbuhan?"
"Masih bagus."
"Utang?"
"Masih terkendali."
"Arus kas?"
"Sehat."
"Moat?"
"Belum berubah."
Bima mengangguk.
"Lalu apa yang berubah?"
Sony melihat harga saham.
"Harganya naik."
"Cuma itu?"
Sony diam.
"Ya."
Bima tersenyum.
"Kalau begitu mungkin yang berubah bukan perusahaan."
"Tapi saya?"