BUKAN MAIN SAHAM

Prasetya
Chapter #21

BAB 21 KETIKA PORTOFOLIO MERAH

BAB 21 KETIKA PORTOFOLIO MERAH

Senin pagi.

Sony sedang sarapan ketika ponselnya berbunyi berkali-kali.

Satu pesan.

Dua.

Lima.

Sepuluh.

Grup investasi mendadak ramai.

"IHSG jatuh!"

"Gawat!"

"Sektor bank dihajar!"

Sony meletakkan sendok.

Ia membuka aplikasi saham.

Angka-angka merah memenuhi layar.

Ia menarik napas.

Portofolionya turun.

-8,4%.

"Masih biasa," gumamnya.

Ia teringat Bima.

Jangan panik hanya karena harga turun.

Tetapi pukul sebelas, penurunannya semakin dalam.

-14,7%.

Sony mulai gelisah.

Sore hari:

-19,3%.

Ia menutup aplikasi.

"Sudahlah."

Namun malam itu ia tidak bisa tidur.

Selasa pagi pasar kembali dibuka.

Jatuh lagi.

Sony mulai menghitung kerugiannya.

Modal investasinya Rp50 juta.

Kalau turun 20 persen, berarti sekitar Rp10 juta menguap dari nilai portofolio.

Rp10 juta.

Angka itu terasa besar.

Sangat besar.

Apalagi ia dan Maya masih memiliki rencana pernikahan.

Sony membuka rekening tabungannya.

Untungnya, uang untuk kebutuhan hidup dan rencana pernikahan tidak ia masukkan ke saham.

Ia menarik napas lega.

Setidaknya satu hal yang diajarkan Bima sudah menyelamatkannya.

Jangan investasikan uang yang akan segera dibutuhkan.

Sony menelepon Bima.

"Mas."

"Ya?"

"Pasar jatuh."

"Aku tahu."

"Parah."

"Seberapa parah?"

"Portofolio saya hampir minus 20 persen."

Bima diam sebentar.

Kemudian bertanya:

"Perusahaannya bagaimana?"

Sony terdiam.

"Belum tahu."

"Nah."

"Maksudnya?"

Lihat selengkapnya