BAB 22 MESIN YANG MEMBACA RIBUAN LAPORAN
"Mas, saya menemukan sesuatu."
Bima sedang menyeduh kopi ketika Sony datang dengan wajah penuh semangat.
"Jangan bilang kamu menemukan saham yang mau naik sepuluh kali lipat."
Sony tertawa.
"Bukan."
"Lalu?"
"AI."
Bima berhenti menuang kopi.
"AI?"
"Bayangkan kalau kita bisa menyuruh komputer membaca laporan keuangan ratusan perusahaan."
Bima tersenyum.
"Bisa?"
"Bisa membantu."
"Membantu, bukan menggantikan?"
Sony mengangguk.
"Itu yang saya pikir."
Malamnya Sony membuka laptop.
Ia tidak meminta AI menjawab:
"Saham apa yang akan naik?"
Ia justru membuat pertanyaan yang berbeda.
"Saring perusahaan yang memiliki ROE tinggi, pertumbuhan laba positif, utang terkendali, arus kas sehat, dan valuasi yang tidak terlalu mahal."
Beberapa saat kemudian muncul daftar.
Sony terdiam.
Bukan karena menemukan saham ajaib.
Justru karena daftar itu masih cukup panjang.
"Berarti belum selesai."
Ia kemudian memperketat kriterianya.
ROE konsisten.
Laba tumbuh.
PBV tidak ekstrem.
Arus kas operasi positif.
Utang terkendali.
Margin stabil.
Daftar menyusut.
Sony tersenyum.
"Nah."
Keesokan harinya ia menunjukkan hasilnya kepada Bima.
"Ini bukan rekomendasi beli," kata Sony.
"Lalu apa?"
"Daftar perusahaan yang layak saya teliti lebih dalam."
Bima mengangguk.
"Bagus."
"AI membantu menyaring."
"Dan kamu?"
"Saya yang memutuskan."
"Kenapa?"
"Karena angka tidak selalu menceritakan seluruh cerita."
Bima tersenyum.
"Sekarang kamu sudah tahu cara menggunakan teknologi dengan benar."
Sony kemudian menemukan sebuah perusahaan yang menarik.
ROE tinggi.
Laba tumbuh.
PBV masih masuk akal.
Utang rendah.
Arus kas bagus.
Secara angka, perusahaan itu terlihat seperti kandidat ideal.
Sony hampir langsung memasukkannya ke portofolio.
Tetapi ia teringat pelajaran sebelumnya.
Jangan membeli hanya karena indikator terlihat bagus.
Ia mulai membaca laporan tahunan.
Kemudian membaca catatan atas laporan keuangan.
Ia menemukan sesuatu.
Laba perusahaan memang tinggi.
Tetapi sebagian pertumbuhan berasal dari keuntungan yang tidak berulang.
Sony mengernyit.
"Kalau saya hanya melihat laba bersih, saya bisa tertipu."