BUKAN MAIN SAHAM

Prasetya
Chapter #23

BAB 23 HARGA BUKAN NILAI

BAB 23 HARGA BUKAN NILAI

"Kalau perusahaan ini bagus, kenapa harganya tidak langsung saya beli saja?"

Sony menatap Bima.

"Karena perusahaan bagus belum tentu sahamnya murah."

"Kalau murah?"

"Belum tentu bagus."

Sony tertawa.

"Berarti kita harus mencari perusahaan bagus dan harga yang masuk akal."

Bima mengangguk.

"Sekarang kita masuk ke bagian yang paling sering membuat investor keliru."

"Valuasi?"

"Ya."

Sony membuka laptop.

Di layar ada sebuah perusahaan yang menurut analisisnya sangat menarik.

Laba tumbuh.

ROE tinggi.

Utang terkendali.

Arus kas sehat.

Moat kuat.

Tetapi ada satu masalah.

Harganya mahal.

Sony menghela napas.

"Padahal perusahaannya bagus."

"Bagus sebagai bisnis."

"Belum tentu bagus sebagai investasi."

"Persis."

Bima mengambil sebuah contoh sederhana.

"Bayangkan ada sebuah toko yang menghasilkan laba Rp100 juta setahun."

"Ya."

"Kamu mau membeli toko itu."

"Berapa?"

"Kalau pemiliknya meminta Rp500 juta?"

Sony menjawab cepat.

"Menarik."

"Kalau Rp1 miliar?"

"Masih mungkin."

"Kalau Rp10 miliar?"

Sony tertawa.

"Tidak masuk akal."

"Nah."

Bima menunjuk Sony.

"Tokonya sama."

"Yang berubah harganya."

"Dan harga menentukan apakah investasi itu menarik."

Sony mulai memahami perbedaan yang sangat penting:

Bisnis adalah barang yang dibeli.

Harga adalah uang yang dibayar.

Keduanya tidak sama.

Seperti membeli rumah.

Rumah yang bagus seharga Rp500 juta bisa menjadi pembelian menarik.

Rumah yang sama seharga Rp5 miliar belum tentu menarik.

Kualitas barang tidak menentukan apakah harganya murah.

Bima kemudian memperkenalkan cara berpikir yang lebih sederhana.

"Bayangkan kamu bisa membeli seluruh perusahaan."

Sony mengangguk.

"Berapa uang yang bisa dihasilkan perusahaan itu untuk pemiliknya selama bertahun-tahun?"

"Laba dan arus kas?"

"Betul."

"Lalu kita memperkirakan pertumbuhan masa depan."

"Ya."

"Setelah itu?"

"Kita hitung berapa nilai bisnisnya hari ini."

Sony mengangguk.

"Discounted cash flow?"

"Bisa. Tapi jangan terjebak rumus."

Bima tersenyum.

"Valuasi pada dasarnya adalah memperkirakan berapa nilai uang yang akan dihasilkan bisnis di masa depan, lalu menilainya dalam uang hari ini."

Sony mencatat.

Malam itu Sony mencoba menghitung.

Ia membuat tiga skenario.

PESIMISTIS

Pertumbuhan laba rendah.

Margin turun.

Risiko meningkat.

Nilai wajar: Rp900.

Lihat selengkapnya