BUKAN MAIN SAHAM

Prasetya
Chapter #24

BAB 24 JANGAN MEMPERTARUHKAN PERMAINAN

BAB 24 JANGAN MEMPERTARUHKAN PERMAINAN

Pagi itu Sony datang lebih awal.

Bima sudah duduk di pojok warung dengan secangkir kopi.

"Jadi," kata Bima, "kalau kamu sudah menemukan saham bagus, harga menarik, dan margin of safety cukup, berapa banyak yang akan kamu beli?"

Sony langsung menjawab.

"Sebanyak yang saya mampu."

Bima tertawa.

"Itu jawaban yang dulu."

Sony ikut tertawa.

"Sekarang?"

"Sekarang saya harus menentukan porsinya."

"Nah. Ini yang ingin saya bicarakan."

Bima mengambil buku Sony.

"Misalnya kamu punya modal Rp100 juta."

Sony mengangguk.

"Kamu menemukan perusahaan yang menurutmu sangat bagus."

"Ya."

"Berapa yang kamu masukkan?"

Sony berpikir.

"Rp50 juta?"

"Kenapa?"

"Karena saya sangat yakin."

Bima mengangkat alis.

"Bagaimana kalau analisismu salah?"

Sony terdiam.

"Rugi separuh portofolio."

"Dan kalau sahamnya turun 50 persen?"

"Nilai portofolio turun 25 persen."

"Masih sanggup?"

Sony mulai berpikir.

Bima kemudian berkata:

"Keyakinan bukan alasan untuk mempertaruhkan seluruh permainan."

Sony membuka catatannya.

Ia mulai memahami sesuatu yang selama ini tidak terlalu ia perhatikan.

Ukuran posisi.

Sebuah saham bisa sangat bagus.

Tetapi kalau porsinya terlalu besar, risiko portofolio tetap tinggi.

Sebaliknya, saham yang sedikit lebih berisiko bisa tetap masuk portofolio kalau porsinya disesuaikan.

Jadi bukan hanya:

"Apakah saham ini bagus?"

Tetapi juga:

"Seberapa besar saya pantas memilikinya?"

Bima memberi contoh.

"Bayangkan kamu memiliki empat perusahaan."

Sony menulis:

A = 40%

B = 30%

C = 20%

D = 10%

"Kalau A bermasalah?"

"Dampaknya besar."

"Kalau A adalah perusahaan yang paling kamu yakini?"

"Masih besar."

"Kalau A ternyata mengalami masalah serius?"

Sony mengangguk.

"Portofolio ikut terpukul."

Bima berkata:

"Jangan sampai satu kesalahan menghapus hasil dari sepuluh keputusan benar."

Sony menggarisbawahi kalimat itu.

Malamnya Sony mencoba membuat aturan sendiri.

Ia tidak ingin ada satu saham yang terlalu dominan.

Ia juga tidak ingin memiliki terlalu banyak saham hanya demi terlihat terdiversifikasi.

Akhirnya ia membuat tiga kategori.

INTI

Lihat selengkapnya