BUKAN MAIN SAHAM

Prasetya
Chapter #25

BAB 25 UANG YANG BUKAN MILIK KITA

BAB 25 UANG YANG BUKAN MILIK KITA

"Son, saya punya peluang."

Sony sedang membaca laporan keuangan ketika telepon dari Ardi masuk.

"Peluang apa?"

"Broker kasih fasilitas margin."

Sony langsung terdiam.

"Terus?"

"Misalnya kita punya modal Rp100 juta. Bisa beli saham sampai Rp150 juta."

Sony mengernyit.

"Pakai uang pinjaman?"

"Ya."

"Kalau saham naik?"

"Untung kita lebih besar."

Sony tidak langsung menjawab.

Kalimat itu memang terdengar menarik.

Kalau modal sendiri Rp100 juta menghasilkan keuntungan 20%, ia mendapat Rp20 juta.

Tetapi kalau dengan tambahan uang pinjaman ia bisa mengendalikan saham senilai Rp150 juta, keuntungan 20% menjadi Rp30 juta sebelum biaya dan bunga.

Lebih besar.

Namun Sony teringat sesuatu.

Ia menelepon Bima.

"Mas, kalau pakai margin bagaimana?"

Bima tidak langsung menjawab.

"Kenapa mau pakai?"

"Bisa memperbesar keuntungan."

"Dan?"

Sony terdiam.

"Memperbesar kerugian juga."

"Betul."

Bima kemudian bertanya,

"Kalau kamu membeli saham Rp100 juta dengan uang sendiri dan harganya turun 30%, berapa nilainya?"

"Rp70 juta."

"Apakah broker akan meneleponmu?"

"Tidak ada pinjaman."

"Kalau kamu membeli Rp150 juta dengan modal sendiri Rp100 juta dan pinjaman Rp50 juta, lalu saham turun 30%?"

Sony mulai menghitung.

Nilai saham menjadi Rp105 juta.

Utangnya tetap sekitar Rp50 juta, belum memperhitungkan bunga dan biaya.

Berarti ekuitasnya tinggal sekitar:

Rp55 juta.

Modal awal Rp100 juta berubah menjadi Rp55 juta.

Turun sekitar 45%.

Sony terdiam.

"Padahal sahamnya cuma turun 30%."

"Karena kamu menambahkan utang."

Bima berkata pelan:

"Leverage membuat hasil investasi bergerak lebih cepat daripada bisnis yang kamu miliki."

Sony mengangguk.

Kalau harga naik, ia mendapat keuntungan lebih besar.

Tetapi kalau harga turun, modalnya terkikis jauh lebih cepat.

Dan ada satu masalah lagi.

Pinjaman tidak peduli apakah harga saham sedang murah atau mahal.

Bunga tetap berjalan.

Lihat selengkapnya