BAB 26 KETIKA SEMUA ORANG MENDADAK JADI INVESTOR
Sabtu pagi.
Sony sedang menikmati kopi ketika ponselnya tidak berhenti berbunyi.
Grup WhatsApp.
Instagram.
TikTok.
Telegram.
Semua membicarakan hal yang sama.
Saham tertentu naik gila-gilaan.
Seseorang mengunggah tangkapan layar portofolionya.
"Modal Rp20 juta jadi Rp37 juta!"
Orang lain menulis:
"Masih murah. Target 5x!"
Ada pula yang berkata:
"Kalau belum punya saham ini, kalian akan menyesal."
Sony menatap layar.
Jantungnya sedikit berdebar.
Ia membuka grafik saham tersebut.
Naik tajam.
Hari demi hari.
Minggu demi minggu.
Sony mulai berpikir.
"Jangan-jangan saya terlambat."
Ia menelepon Bima.
"Mas."
"Ya?"
"Ada saham yang naik luar biasa."
"Saham apa?"
Sony menyebutkan namanya.
Bima diam.
"Kamu sudah menganalisis?"
"Belum."
"Sudah membaca laporan keuangannya?"
"Belum."
"Sudah menghitung valuasinya?"
"Belum."
"Lalu kenapa mau beli?"
Sony tidak langsung menjawab.
Kemudian ia berkata jujur:
"Takut ketinggalan."
Bima tertawa kecil.
"Bagus."
"Bagus?"
"Karena sekarang kamu tahu alasan sebenarnya."
Sony kembali membuka grafik.
Harga terus naik.
+12%.
+18%.
+27%.
Ia merasa semakin tertekan.
Kalau menunggu analisis selesai, mungkin harga sudah semakin mahal.
Ia hampir menekan tombol beli.
Namun tangannya berhenti.
Ia teringat aturan yang dibuatnya sendiri.
Jangan membeli karena harga sedang naik.
Sony menutup aplikasi.
"Besok saja."
Besoknya ia mulai melakukan penelitian.
Ia meminta AI membantu menyaring laporan perusahaan.
Pendapatan memang tumbuh cepat.
Laba juga meningkat.
Namun ketika Sony membandingkan pertumbuhan laba dengan kenaikan harga saham, ia mulai mengernyit.
Harga saham telah naik jauh lebih cepat daripada pertumbuhan bisnis.
Ia menghitung valuasi.
Hasilnya mengejutkan.
Perusahaan yang enam bulan lalu mungkin menarik, sekarang sudah dihargai sangat tinggi oleh pasar.
Sony bertanya kepada AI:
"Apa alasan paling kuat mengapa valuasi ini tetap bisa dibenarkan?"
Jawabannya ada.
Pertumbuhan bisa sangat tinggi.
Pasarnya sedang berkembang.
Perusahaan memiliki peluang besar.