BAB 27 SAAT PASAR TIDAK PERCAYA
Senin pagi, Sony menemukan sesuatu yang menarik.
Bukan saham yang sedang ramai.
Bukan saham yang sedang naik.
Justru sebaliknya.
Saham itu hampir tidak pernah dibicarakan.
Di media sosial, nyaris tidak ada yang membahas.
Di grup investasi, tidak ada yang memamerkan.
Harga sahamnya bahkan sudah turun cukup lama.
Sony membuka laporan keuangannya.
Kemudian berhenti.
"Lho?"
Ia memeriksa lagi.
Pendapatan tumbuh.
Laba tumbuh.
Arus kas operasi positif.
Utang rendah.
ROE konsisten.
PBV relatif rendah dibandingkan kualitas bisnisnya.
Sony mengernyit.
"Kenapa pasar tidak suka perusahaan ini?"
Ia mengirim laporan tersebut kepada Bima.
"Mas, coba lihat."
Beberapa menit kemudian Bima menjawab.
"Menarik."
Sony tersenyum.
"Berarti beli?"
"Belum."
Sony menghela napas.
"Kenapa?"
"Cari tahu kenapa murah."
Sony kembali melihat layar.
Pertanyaan itu ternyata jauh lebih penting daripada:
"Seberapa murah?"
Karena saham murah bisa berarti dua hal.
Pertama: pasar salah menilai.
Kedua: ada masalah yang belum ia lihat.
Sony mulai menyelidiki.
Ia meminta bantuan AI.
"Cari alasan fundamental yang dapat menjelaskan mengapa valuasi perusahaan ini rendah dibandingkan historis dan pesaingnya."
AI membantunya menyusun beberapa kemungkinan.
Pertumbuhan industri sedang melambat.
Investor khawatir terhadap persaingan.
Ada perubahan kebijakan yang mungkin memengaruhi bisnis.
Sentimen terhadap sektor tersebut sedang buruk.
Sony mencatat semuanya.
Kemudian ia membaca laporan perusahaan sendiri.
Tidak cukup.
Ia membaca laporan pesaing.
Masih belum puas.
Ia membaca berita industri.
Kemudian laporan tahunan beberapa tahun sebelumnya.
Semakin lama, Sony semakin yakin bahwa masalahnya bukan pada kondisi perusahaan saat ini.
Pasarnya memang sedang tidak disukai.
Bima akhirnya bertanya:
"Kalau perusahaan ini bagus, kenapa kamu belum beli?"
Sony menjawab:
"Karena saya belum tahu apakah pasar benar-benar salah."
"Bagus."
"Terus bagaimana mengetahuinya?"
"Tidak bisa tahu dengan pasti."
Sony terdiam.
"Lalu?"
"Yang bisa kamu lakukan adalah memperkirakan."
Bima menggambar dua lingkaran di kertas.
Lingkaran pertama:
FAKTA
Lingkaran kedua:
ASUMSI
"Fakta: laba perusahaan RpX."
"Ya."
"ROE sekian."
"Ya."