BUKAN MAIN SAHAM

Prasetya
Chapter #28

BAB 28 UANG YANG KEMBALI KE TANGAN

BAB 28 UANG YANG KEMBALI KE TANGAN

"Mas, saya dapat dividen."

Sony menunjukkan notifikasi di ponselnya.

Bima tersenyum.

"Berapa?"

"Tidak banyak."

"Kenapa senang?"

Sony tertawa.

"Karena saya tidak menjual saham."

Bima mengangguk.

"Nah. Sekarang kamu mulai merasakan bedanya memiliki bisnis dengan sekadar memiliki angka di layar."

Sony memperhatikan notifikasi itu lagi.

Uang masuk ke rekening.

Tidak ada yang istimewa.

Tidak ada harga saham yang melonjak.

Tidak ada berita besar.

Perusahaan hanya membagikan sebagian keuntungan kepada pemegang saham.

Tetapi bagi Sony, ada sesuatu yang menarik.

Bisnis itu menghasilkan uang untuk pemiliknya.

Dan ia adalah salah satu pemiliknya.

"Berarti semakin besar dividen, semakin bagus?"

Bima langsung menggeleng.

"Belum tentu."

Sony sudah bisa menebak.

"Kenapa?"

"Kalau perusahaan menghasilkan laba Rp100 miliar, lalu membagikan Rp100 miliar semuanya sebagai dividen, apa yang tersisa untuk mengembangkan bisnis?"

"Tidak ada."

"Kalau perusahaan punya kesempatan investasi yang sangat bagus?"

"Lebih baik sebagian laba dipakai untuk ekspansi."

"Betul."

Bima mengambil kertas.

"Sekarang bayangkan perusahaan menghasilkan laba Rp100 miliar."

Ia membagi angka itu menjadi dua.

Rp60 miliar untuk mengembangkan bisnis.

Rp40 miliar dibagikan kepada pemegang saham.

"Kalau uang Rp60 miliar itu bisa menghasilkan keuntungan tinggi di masa depan?"

"Nilai perusahaan bisa semakin besar."

"Dan kalau perusahaan tidak punya lagi tempat yang bagus untuk menginvestasikan uangnya?"

"Lebih baik dibagikan."

Bima tersenyum.

"Dividen bukan tujuan. Dividen adalah salah satu cara perusahaan mengembalikan modal kepada pemiliknya."

Sony mulai melihat laporan perusahaan dari sudut berbeda.

Ia menemukan perusahaan yang rajin membagikan dividen.

Tetapi pertumbuhan labanya hampir tidak ada.

Di sisi lain ada perusahaan yang dividennya kecil.

Namun labanya tumbuh sangat cepat.

Sony bertanya:

"Mana yang lebih bagus?"

Bima menjawab:

"Pertanyaanmu salah."

Sony tertawa.

"Lagi?"

"Yang benar: mana yang lebih cocok dengan bisnis dan harga yang kamu beli?"

Sony kemudian membuat dua contoh.

PERUSAHAAN A

Laba: Rp100 miliar.

Dividen: Rp80 miliar.

Pertumbuhan rendah.

PERUSAHAAN B

Laba: Rp100 miliar.

Dividen: Rp20 miliar.

Lihat selengkapnya