BAB 30 SAAT SEMUA TERLIHAT MAHAL
Pasar sedang bergairah.
Hampir setiap hari Sony melihat angka hijau.
Saham-saham yang dulu ia incar sudah naik.
Ada yang 20 persen.
Ada yang 40 persen.
Bahkan beberapa sudah naik lebih dari dua kali lipat.
Grup investasi kembali ramai.
"Bull market!"
"Jangan keluar dulu!"
"Yang masih pegang cash bakal menyesal!"
Sony membaca semuanya.
Kali ini ia tidak merasa takut.
Ia justru merasa bingung.
Karena setelah menyaring puluhan perusahaan, hanya sedikit yang masih terlihat murah.
Ia membuka daftar watchlist.
Satu demi satu.
Perusahaan A: bisnis bagus, tetapi valuasi mahal.
Perusahaan B: pertumbuhan tinggi, tetapi harga sudah terlalu tinggi.
Perusahaan C: murah, tetapi fundamental memburuk.
Perusahaan D: bagus dan murah, tetapi risikonya terlalu besar.
Sony menyandarkan tubuh.
"Terus saya harus beli apa?"
Ia menelepon Bima.
"Mas."
"Ya?"
"Sekarang hampir semuanya mahal."
"Bagus."
Sony bingung.
"Bagus dari mana?"
"Berarti kamu mulai bisa melihat valuasi."
Sony tertawa.
"Terus uang saya diapakan?"
"Tidak harus selalu diinvestasikan."
"Kalau cash?"
"Cash juga punya fungsi."
Sony datang ke warung.
Bima mengambil dua gelas kopi.
"Bayangkan kamu pergi ke pasar."
"Ya."
"Semua barang yang bagus harganya naik dua kali lipat."
"Ya."
"Apakah kamu harus tetap membeli karena takut besok naik lagi?"
Sony menggeleng.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena saya tidak mau membayar terlalu mahal."
"Persis."
Bima menatap Sony.
"Tidak membeli juga merupakan keputusan investasi."
Sony mulai memahami sesuatu yang sebelumnya sulit baginya.
Saat pasar jatuh, ia belajar berani.
Saat pasar naik, ia harus belajar menahan diri.
Dua-duanya membutuhkan disiplin.
Bedanya:
Ketika pasar jatuh, musuhnya ketakutan.
Ketika pasar naik, musuhnya keserakahan.
Sony kemudian membuat sebuah aturan.
Ia tidak akan memaksakan uang masuk ke pasar hanya karena uang tersedia.
Kalau tidak menemukan peluang dengan margin of safety yang cukup, uang akan tetap berada di tempat yang aman dan likuid sesuai kebutuhan keuangannya.
Bukan karena ia tahu pasar akan jatuh.
Ia tidak tahu.
Tetapi karena ia tahu:
harga yang terlalu mahal mengurangi potensi keuntungan dan meningkatkan risiko kecewa.
Beberapa minggu kemudian seorang teman bertanya:
"Kenapa kamu tidak beli saham itu?"