BUKAN MAIN SAHAM

Prasetya
Chapter #34

BAB 34 SAAT SAHAM YANG KITA PERCAYA JATUH

BAB 34 SAAT SAHAM YANG KITA PERCAYA JATUH

Harga saham itu terus turun.

-12%.

Sony masih tenang.

-21%.

Ia mulai membaca laporan.

-28%.

Ponselnya berbunyi.

Pesan dari Ardi:

"Son, jual nggak?"

Sony tidak menjawab.

Beberapa menit kemudian:

"Kayaknya bakal jatuh lagi."

Sony meletakkan ponsel.

Ia tidak ingin membuat keputusan berdasarkan kepanikan orang lain.

Tetapi ia juga tidak ingin mempertahankan saham hanya karena keras kepala.

Ia membuka catatan investasinya.

Di halaman pertama tertulis:

"Apa alasan saya membeli?"

Sony mulai membaca.

ALASAN SONY MEMBELI

Bisnis utama memiliki keunggulan.

ROE historis kuat.

Utang terkendali.

Arus kas sehat.

Pertumbuhan laba konsisten.

Valuasi masuk akal.

Manajemen memiliki rekam jejak baik.

Ia berhenti.

Kemudian membuka laporan terbaru.

Satu per satu ia periksa.

Bisnis utama?

Masih ada.

Utang?

Masih terkendali.

Arus kas?

Menurun.

Laba?

Turun tajam.

ROE?

Turun.

Manajemen?

Masih sama.

Sony mengerutkan dahi.

Ada masalah.

Tetapi apakah masalah itu sementara?

Ia membaca penjelasan manajemen.

Ternyata perusahaan menghadapi kenaikan harga bahan baku yang sangat besar.

Pada saat yang sama, permintaan produknya melemah.

Dua pukulan datang bersamaan.

Sony menulis:

Masalah 1: biaya naik.

Masalah 2: penjualan melemah.

Masalah 3: margin tertekan.

Kemudian ia menulis pertanyaan:

Apakah ketiga masalah ini permanen?

Sony menghubungi Bima.

"Mas, saham saya turun hampir 30 persen."

"Kenapa?"

"Fundamentalnya memburuk."

"Seberapa buruk?"

Sony menjelaskan.

Lihat selengkapnya