BUKAN MAIN SAHAM

Prasetya
Chapter #35

BAB 35 JANGAN MEMILIKI SEPULUH TELUR DALAM SATU KERANJANG

BAB 35 JANGAN MEMILIKI SEPULUH TELUR DALAM SATU KERANJANG

"Buka semuanya."

Sony menatap Bima.

"Semua apa?"

"Portofoliomu."

Sony membuka aplikasi sekuritas.

Satu per satu saham muncul di layar.

Bima membaca tanpa komentar.

Sony tersenyum percaya diri.

"Lumayan kan, Mas? Ada dua belas saham."

Bima justru bertanya:

"Kenapa dua belas?"

"Biar terdiversifikasi."

"Yakin?"

Sony mengangguk.

Bima menunjuk beberapa saham.

"Ini perusahaan apa?"

"Bank."

"Yang ini?"

"Bank juga."

"Ini?"

"Perusahaan pembiayaan."

"Dan yang ini?"

"Properti."

Bima menunjuk saham berikutnya.

"Ini?"

"Tambang."

"Yang ini?"

"Komoditas."

Bima meletakkan ponselnya.

"Sekarang kita lihat bukan jumlah sahamnya."

"Lalu?"

"Kita lihat sumber risikonya."

Sony mulai mengerti.

Dua belas saham tidak otomatis berarti dua belas sumber keuntungan.

Kalau lima saham bergantung pada kondisi ekonomi yang sama, maka ketika ekonomi memburuk, semuanya bisa turun bersama.

Kalau beberapa perusahaan bergantung pada harga komoditas yang sama, mereka bisa terkena pukulan yang sama.

Kalau beberapa saham memiliki karakter bisnis yang sangat mirip, diversifikasi di atas kertas belum tentu diversifikasi dalam kenyataan.

Bima berkata:

"Diversifikasi bukan menghitung berapa banyak saham yang kamu punya. Diversifikasi adalah memahami bagaimana masing-masing risiko bekerja."

Sony mencatat.

Mereka mulai membagi portofolio Sony berdasarkan sektor dan karakter bisnis.

Perbankan.

Konsumer.

Infrastruktur.

Komoditas.

Teknologi.

Properti.

Kemudian Bima bertanya:

"Kalau suku bunga naik, mana yang paling terpengaruh?"

Sony mulai berpikir.

"Perbankan tertentu, properti, perusahaan yang banyak utang..."

"Kalau harga komoditas jatuh?"

"Perusahaan tambang."

"Kalau konsumsi masyarakat melemah?"

"Consumer discretionary."

Sony tersenyum.

"Jadi kita harus melihat hubungan antarperusahaan."

"Betul."

Sony kemudian menemukan sesuatu yang mengejutkan.

Portofolionya terlihat terdiversifikasi berdasarkan jumlah saham.

Tetapi berdasarkan risiko, ternyata cukup terkonsentrasi.

Ia memiliki terlalu banyak perusahaan yang sensitif terhadap siklus ekonomi.

"Berarti portofolio saya tidak seaman yang saya kira."

Bima mengangguk.

"Sekarang kamu mulai melihat portofolio sebagai satu kesatuan."

Sony bertanya:

Lihat selengkapnya