BUKAN MAIN SAHAM

Prasetya
Chapter #36

BAB 36 KAPAN HARUS MENJUAL?

BAB 36 KAPAN HARUS MENJUAL?

Sony menatap layar laptop.

Saham yang dulu ia beli di harga Rp1.200 kini berada di Rp3.800.

Lebih dari tiga kali lipat.

Ia tersenyum.

Investasi itu berhasil.

Tetapi justru sekarang masalahnya muncul.

Apakah harus dijual?

Ia membuka laporan keuangan.

Bisnisnya masih bagus.

Pendapatan terus tumbuh.

Laba meningkat.

ROE tinggi.

Utang terkendali.

Arus kas sehat.

Tidak ada masalah besar.

Sony bersandar.

"Kalau bisnisnya bagus, kenapa saya harus menjual?"

Pertanyaan itu terasa masuk akal.

Tetapi kemudian ia melihat valuasinya.

PBV sudah jauh di atas rata-rata historis.

Ia menghitung ulang nilai wajarnya.

Perkiraannya:

Rp2.800–Rp3.100.

Harga pasar:

Rp3.800.

Sony terdiam.

Untuk pertama kalinya ia menghadapi situasi yang berbeda.

Bisnisnya bagus.

Tetapi harganya mungkin terlalu mahal.

Sony menelepon Bima.

"Mas."

"Ya?"

"Saya punya saham yang bagus."

"Bagus."

"Bisnisnya masih bagus."

"Bagus."

"Harganya sudah naik tiga kali lipat."

"Bagus juga."

"Mas jangan jawab bagus terus."

Bima tertawa.

"Masalahnya apa?"

"Menurut saya sekarang kemahalan."

"Kalau begitu?"

"Jual?"

Bima diam.

Kemudian bertanya:

"Kalau kamu menjual, uangnya mau dipindahkan ke mana?"

Sony terdiam.

Ia belum punya jawabannya.

Bima melanjutkan.

"Menjual saham bagus hanya karena sudah naik bukan selalu keputusan yang tepat."

"Jadi?"

"Harus ada alasan."

Sony mulai berpikir.

"Alasannya bisa karena valuasi?"

"Bisa."

"Bisnis memburuk?"

"Jelas."

"Menemukan investasi yang jauh lebih menarik?"

"Bisa."

"Portofolio terlalu terkonsentrasi?"

Lihat selengkapnya