BAB 37 UANG HARUS MEMBERI PILIHAN
Sony membaca surat itu sekali lagi.
Tawaran pekerjaan baru.
Gaji lebih besar.
Posisi lebih baik.
Tetapi harus pindah kota.
Maya menunggu jawabannya.
"Bagaimana?"
Sony menutup surat.
"Bagus."
"Terus?"
"Justru itu masalahnya."
Maya tersenyum.
"Kalau memang bagus, kenapa bingung?"
Sony memandangnya.
"Karena sekarang saya harus memilih. Bukan karena saya tidak punya pilihan."
Maya terdiam.
Sony melanjutkan,
"Dulu kalau ada kesempatan seperti ini, saya pasti ambil karena butuh uang."
"Sekarang?"
"Sekarang saya ingin tahu apakah keputusan ini membuat hidup kita lebih baik."
Malam itu Sony membuka catatan keuangannya.
Ia tidak hanya melihat nilai portofolio.
Ia melihat seluruh kondisi keuangannya.
Penghasilan.
Tabungan.
Investasi.
Pengeluaran.
Kewajiban.
Dana darurat.
Rencana pernikahan.
Semua.
Ia menyadari sesuatu.
Investasi ternyata bukan tujuan akhir.
Investasi adalah alat.
Alat untuk membuat seseorang memiliki pilihan.
Maya bertanya,
"Kalau kamu menolak pekerjaan itu?"
"Saya masih bisa hidup."
"Kalau diterima?"
"Penghasilan lebih besar."
"Jadi?"
"Masalahnya bukan bisa atau tidak."
Sony tersenyum.
"Masalahnya adalah apa yang ingin kita bangun."
Mereka berbicara panjang malam itu.
Tentang pernikahan yang sempat tertunda.
Tentang rumah.
Tentang usaha.
Tentang masa depan.
Sony kemudian mengatakan sesuatu yang membuat Maya tersenyum.
"Dulu saya pikir saya harus menjadi kaya dulu baru bisa tenang."
"Sekarang?"
"Saya mulai berpikir sebaliknya."
"Bagaimana?"
"Saya harus hidup dengan tenang supaya bisa mengambil keputusan uang dengan benar."
Keesokan harinya Sony bertemu Bima.
Ia menceritakan tawaran pekerjaan tersebut.
Bima hanya bertanya:
"Kalau uang bukan masalah, kamu mau pekerjaan itu?"
Sony langsung menjawab.