BUKAN MAIN SAHAM

Prasetya
Chapter #39

BAB 39 SEPULUH TAHUN KEMUDIAN

BAB 39 SEPULUH TAHUN KEMUDIAN

Sepuluh tahun ternyata berlalu lebih cepat daripada yang dibayangkan Sony.

Pagi itu ia duduk di teras rumah sambil menyeruput kopi.

Di tangannya ada laptop.

Tetapi kali ini bukan untuk mencari saham.

Ia sedang membuka laporan portofolionya.

Sony tersenyum.

Angkanya jauh berbeda dari sepuluh tahun lalu.

Bukan karena satu saham yang tiba-tiba terbang.

Bukan karena keberuntungan besar.

Melainkan karena kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang.

Menabung.

Menganalisis.

Membeli ketika harga masuk akal.

Menahan ketika bisnis terus berkembang.

Menjual ketika tesis rusak.

Menginvestasikan kembali dividen.

Dan yang paling penting:

memberi waktu.

Maya keluar membawa dua cangkir kopi.

"Masih lihat saham?"

Sony menutup laptop.

"Sudah selesai."

"Sekarang berapa?"

Sony tersenyum.

"Lebih banyak dari yang dulu."

Maya tertawa.

"Jawabanmu selalu begitu."

Sony menggeleng.

"Bukan soal berapa."

"Lalu?"

Sony memandang halaman rumah.

"Yang penting sekarang uang tidak lagi menentukan semua keputusan kita."

Maya terdiam.

Ia tahu maksudnya.

Dulu mereka menunda pernikahan karena kondisi finansial.

Sekarang mereka sudah melewati banyak hal bersama.

Bukan berarti semua masalah hilang.

Tetapi mereka memiliki pilihan lebih banyak.

Sony teringat dirinya sepuluh tahun lalu.

Seorang pemuda yang ingin cepat kaya.

Ia mencari saham yang akan naik.

Ia takut ketinggalan.

Ia mudah terpengaruh berita.

Ia melihat harga setiap beberapa menit.

Sekarang?

Kadang ia bahkan tidak membuka aplikasi saham selama berhari-hari.

Bukan karena tidak peduli.

Tetapi karena ia tahu:

bisnis tidak berubah setiap lima menit.

Suatu hari seorang anak muda datang menemui Sony.

Namanya Dimas.

Ia baru mulai mengenal saham.

"Mas Sony, ajari saya."

Sony tersenyum.

"Apa yang ingin kamu pelajari?"

"Cari saham yang bisa naik."

Sony tertawa kecil.

"Kenapa?"

"Biar cepat untung."

Sony mengambil selembar kertas.

Ia menulis:

ROE

PBV

LABA

ARUS KAS

UTANG

DIVIDEN

VALUASI

Kemudian ia mencoret semuanya.

Dimas bingung.

"Kenapa dicoret?"

Sony berkata:

Lihat selengkapnya