BUKAN MAIN SAHAM

Prasetya
Chapter #40

BAB 40 BUKAN TENTANG MENJADI KAYA CEPAT

BAB 40 BUKAN TENTANG MENJADI KAYA CEPAT

Pagi itu Sony datang ke sebuah kedai kopi kecil.

Di depannya duduk Dimas, anak muda yang beberapa bulan terakhir rajin belajar investasi.

Dimas membuka laptop.

"Mas, saya sudah coba screening."

Sony tersenyum.

"Berapa saham yang kamu dapat?"

"Dari seluruh saham BEI, tinggal tujuh."

"Bagus."

"Ini kriterianya."

Dimas menunjukkan layar.

ROE bagus.

Utang terkendali.

Laba tumbuh.

Arus kas sehat.

PBV masuk akal.

Sony membaca satu per satu.

"Sudah bagus."

Dimas terlihat puas.

"Tapi?"

Sony tertawa.

"Kamu sudah tahu saya."

Dimas ikut tertawa.

"Apa yang kurang?"

Sony menunjuk layar.

Harga.

"Bukankah PBV sudah saya masukkan?"

"PBV bukan harga yang otomatis murah."

Dimas mengangguk.

"Jadi harus dihitung lagi?"

"Ya."

Sony kemudian mengambil kertas.

"Dimas, sekarang coba jawab pertanyaan paling sederhana."

"Siap."

"Kalau kamu membeli seluruh perusahaan ini, berapa uang yang harus kamu keluarkan?"

Dimas mulai menghitung.

"Misalnya Rp10 triliun."

"Dan berapa laba yang dihasilkan?"

"Rp1 triliun."

"Kalau bisnisnya bisa mempertahankan dan meningkatkan laba itu selama bertahun-tahun?"

"Berarti perusahaan itu bernilai."

"Ya."

"Jadi kita harus membandingkan harga yang kita bayar dengan kemampuan perusahaan menghasilkan uang."

Sony tersenyum.

"Sekarang kamu mulai meninggalkan dunia harga saham dan masuk ke dunia bisnis."

Dimas kemudian bertanya:

"Mas, sebenarnya strategi investasi Mas Sony apa?"

Sony terdiam sebentar.

Ia melihat catatan lama yang selalu ia bawa.

Kemudian menjawab:

"Tidak rumit."

Ia menulis:

STRATEGI SONY

Cari bisnis yang bagus.

Cari harga yang masuk akal.

Beli dengan margin of safety.

Jangan terlalu terkonsentrasi.

Pantau fundamental.

Biarkan compounding bekerja.

Jual kalau tesis rusak atau valuasi sudah tidak masuk akal.

Dan jangan pernah menggunakan uang yang membuat kita tidak bisa tidur.

Dimas membaca semuanya.

"Sesederhana itu?"

"Prinsipnya sederhana."

"Pelaksanaannya?"

Sony tertawa.

"Nah, itu yang sulit."

Dimas kemudian bertanya:

"Kalau AI sekarang bisa melakukan screening dalam hitungan detik, apakah investor masih perlu belajar?"

Sony mengangguk.

"Justru semakin perlu."

"Kenapa?"

"Karena AI bisa membantu mencari."

"Lalu?"

"AI bisa membantu menghitung."

"Lalu?"

"AI bisa membantu membandingkan."

Sony menatap Dimas.

"Tapi keputusan akhirnya tetap membutuhkan penilaian."

Ia melanjutkan:

"AI bisa menunjukkan perusahaan dengan ROE tinggi."

Lihat selengkapnya